Dana Asing Kabur Rp5,96 Triliun, Alarm Risiko Pasar Keuangan Indonesia Meraung di Awal 2026
Mata Uang Rupiah (Foto: Dok Kakinews.id)
Kakinews.id – Arus modal asing kembali menunjukkan sinyal bahaya bagi stabilitas pasar keuangan nasional. Bank Indonesia mencatat dana asing hengkang dari pasar keuangan domestik dengan nilai fantastis Rp5,96 triliun hanya dalam hitungan hari pada pekan ketiga awal 2026.
Pelarian modal tersebut terjadi sepanjang periode 19 hingga 22 Januari 2026 dan menyapu hampir seluruh instrumen utama pasar keuangan. Investor asing tercatat melakukan jual neto besar-besaran di pasar saham senilai Rp2,67 triliun, disusul pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1 triliun, serta penarikan dana dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp1,85 triliun.
“Berdasarkan data transaksi 19–22 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp5,96 triliun,” ungkap Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, dalam pernyataan resmi yang dikutip Sabtu (24/1/2026).
Ironisnya, di tengah derasnya arus keluar tersebut, Bank Indonesia mencatat bahwa sejak awal 2026 sebenarnya masih terdapat aliran modal asing masuk sebesar Rp9,91 triliun. Dana itu berasal dari pasar saham sebesar Rp8,02 triliun dan Rp1,89 triliun dari pasar SBN. Namun angka positif ini langsung tergerus oleh derasnya jual neto, terutama dari instrumen SRBI yang sendiri mencatat penarikan Rp2,67 triliun.
Eksodus modal asing ini tak berhenti pada angka transaksi semata. Tekanan langsung tercermin pada lonjakan premi risiko investasi Indonesia. Credit default swap (CDS) Indonesia per 22 Januari 2026 melonjak ke 73,28 basis poin, naik signifikan dibanding posisi 15 Januari 2026 di level 70,86 basis poin. Kenaikan ini menjadi sinyal jelas meningkatnya persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
Di tengah gejolak tersebut, Bank Indonesia menyatakan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar rupiah. Namun derasnya arus keluar modal dan naiknya premi risiko menjadi peringatan keras bahwa kepercayaan investor asing masih rapuh dan sewaktu-waktu bisa kembali goyah.

