BERITA UTAMA Ekonomi dan Bisnis

Prediksi Harga Emas Minggu Ini

Prediksi Harga Emas Minggu Ini

Emas (Foto: Dok Kakinews.id)

Kakinews.id – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Dalam sepekan, logam mulia ini bukan sekadar naik — tetapi melesat dan menegaskan statusnya sebagai aset pelarian utama di tengah ketidakpastian global.

Pada Jumat (13/2/2026), harga emas spot ditutup di level US$ 5.043,92 per troy ons, melonjak tajam 2,48% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini bukan hanya sekadar rebound teknikal, tetapi sinyal kuat bahwa investor kembali memburu emas secara agresif.

Harga emas juga berhasil menembus kembali level psikologis US$ 5.000 per troy ons, hanya sehari setelah sempat terjun lebih dari 3% pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Koreksi tajam itu justru dimanfaatkan pasar sebagai momentum “serok murah”.

Sepanjang pekan lalu, emas mencatat kenaikan 1,52% secara point-to-point — sebuah penguatan yang menegaskan bahwa tren naik masih sangat dominan.

Pemicu utama reli emas datang dari Amerika Serikat. Data inflasi terbaru memberi “bahan bakar” baru bagi pasar. US Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi tahunan Januari hanya 2,4% (yoy), terendah dalam delapan bulan terakhir.

Inflasi yang semakin jinak ini memicu spekulasi besar bahwa Federal Reserve akan lebih leluasa memangkas suku bunga. Pasar bahkan mulai mengunci ekspektasi setidaknya tiga kali penurunan suku bunga sepanjang 2026.

Bagi emas, ini kabar emas dalam arti harfiah. Sebagai aset non-yielding, daya tarik emas otomatis meningkat saat suku bunga turun. Semakin murah biaya uang, semakin mahal harga logam mulia.

Selain faktor fundamental, lonjakan harga juga didorong aksi bargain hunting besar-besaran setelah koreksi tajam sebelumnya. Investor tidak ragu kembali masuk pasar, menilai penurunan harga sudah terlalu dalam.

“Volatilitas masih tinggi. Namun koreksi sebelumnya tampaknya cukup dalam sehingga aksi bargain hunting dan reposisi investor akan menopang harga emas,” kata Ewa Manthey, Commodity Strategist ING Bank, dikutip Bloomberg.


Analisis Teknikal: Kuat, Tapi Sudah Kepanasan

Secara teknikal, tren emas masih kokoh di jalur bullish. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 77 — jauh di atas ambang bullish 50. Namun angka ini juga menandakan kondisi jenuh beli (overbought).

Stochastic RSI di level 76 memperkuat gambaran yang sama: tekanan beli masih dominan, tetapi ruang kenaikan mulai terbatas karena pasar sudah panas.

Artinya, peluang koreksi tetap terbuka lebar dalam jangka pendek.

Jika tekanan jual muncul, target support terdekat berada di US$ 4.890 per troy ons (MA-5). Jika level ini runtuh, emas bisa meluncur ke US$ 4.646 (MA-10). Dalam skenario tekanan ekstrem, harga bahkan berpotensi turun hingga US$ 3.857 per troy ons.

Namun jika momentum bullish berlanjut, emas berpeluang menguji resistensi US$ 5.082 per troy ons. Jika tembus, target berikutnya berada di kisaran US$ 5.234–US$ 5.371 per troy ons.

Skenario paling optimistis? Emas berpotensi menembus US$ 5.994 per troy ons — level yang akan menandai fase reli agresif baru.

Kesimpulannya, emas masih berada di jalur naik, tetapi pasar kini berdiri di titik rawan: antara melanjutkan reli besar… atau terkoreksi tajam karena sudah terlalu panas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *