KAKINEWS.ID, JAKARTA — Harga emas dunia kembali mendapat tekanan. Setelah sempat mencetak level tinggi, logam mulia kini harus menghadapi aksi jual yang cukup tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Harga emas di pasar spot pada perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup di US$4.317,3 per troy ons. Angka tersebut anjlok 1,84% dibandingkan perdagangan sebelumnya dan menjadi level terendah sejak 6 Agustus 2026.

Tekanan terhadap emas salah satunya datang dari data inflasi produsen AS yang kembali menunjukkan panasnya tekanan harga.

Berdasarkan data US Bureau of Labor Statistics, inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada Agustus 2026 meningkat 0,4% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), PPI mencapai 5,4%, naik dari 4,8% pada Juli dan sedikit lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 5,3%.

Sementara itu, inflasi inti produsen tercatat 0,2% mtm dan 4,6% yoy. Pada Juli, inflasi inti masing-masing berada di 0,3% mtm dan 4,3% yoy.

Data tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) kembali berubah.

Head of FX Strategy TD Securities Jayati Bharadwaj menilai kenaikan inflasi produsen memperbesar ekspektasi bahwa The Fed masih akan mengambil langkah pengetatan moneter.

“Data inflasi produsen yang tinggi meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunga,” ujar Bharadwaj seperti dikutip Bloomberg News.

Kenaikan suku bunga menjadi kabar buruk bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, daya tarik emas cenderung tertekan ketika instrumen berbunga menawarkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Tekanan juga datang dari bank sentral lain. European Central Bank (ECB) pada Kamis menaikkan suku bunga simpanan sebesar 25 basis poin menjadi 2,5%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Meski demikian, emas belum sepenuhnya kehilangan peluang untuk bangkit.

Pada Jumat (11/9/2026) pagi, harga emas mulai menunjukkan stabilisasi. Hingga pukul 07.20 WIB, emas tercatat naik tipis 0,06% ke US$4.320,1 per troy ons.

Pertanyaannya kini: apakah penurunan tajam tersebut merupakan awal koreksi lebih dalam atau justru membuka ruang bagi investor untuk melakukan akumulasi?

Emas Masuk Zona Bearish

Dari sisi teknikal, kondisi emas memang mulai mengkhawatirkan.

Pada time frame harian, Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 46. Posisi RSI di bawah 50 menunjukkan momentum harga sudah memasuki wilayah bearish, meskipun belum menunjukkan tekanan yang ekstrem.

Sinyal yang berbeda justru muncul dari Stochastic RSI 14 hari. Indikator tersebut berada di level 1, jauh di bawah ambang 20 yang mengindikasikan kondisi sangat jenuh jual atau oversold.

Kondisi oversold membuka peluang terjadinya technical rebound dalam perdagangan hari ini.

Level US$4.359 per troy ons menjadi resistance pertama yang perlu diperhatikan. Level tersebut bertepatan dengan Moving Average (MA) 5.

Jika mampu ditembus, emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju MA-10 di sekitar US$4.386 per troy ons.

Apabila resistance tersebut kembali ditembus, ruang kenaikan menjadi lebih terbuka dengan target berikutnya di kisaran US$4.427-US$4.473 per troy ons.

Dalam skenario paling optimistis, emas bahkan berpeluang menguji US$4.494 per troy ons.

Namun, investor juga tidak boleh mengabaikan risiko penurunan lanjutan.

Jika emas kembali tertekan dan menembus support US$4.308 per troy ons, tekanan jual berpotensi semakin kuat.

Harga kemudian berpeluang meluncur menuju US$4.275-US$4.235 per troy ons. Dalam skenario paling bearish, emas bahkan berpotensi merosot hingga US$4.136 per troy ons.

Dengan demikian, level US$4.308 menjadi salah satu titik krusial yang patut dicermati. Selama support tersebut mampu bertahan, peluang rebound masih terbuka. Sebaliknya, jika jebol, investor harus bersiap menghadapi koreksi yang lebih dalam.

Catatan: Proyeksi teknikal bukan jaminan pergerakan harga dan keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko serta kondisi pasar secara menyeluruh.