IHSG Babak Belur! Sepekan Ambles 4,73%, Sektor Konsumen hingga Energi Terseret Dalam

BEI (Foto: Dok Kakinews.id)
Kakinews.id – Pasar saham Indonesia pekan lalu benar-benar tak ramah bagi investor. Hingga penutupan Jumat (6/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembap 4,73% dan parkir di level 7.935,26. Tekanan jual deras membuat indeks nyaris menyentuh titik nadir 7.712,34, sementara posisi tertinggi hanya sempat tercatat di 8.313,05 pada Rabu siang sebelum akhirnya tergelincir tajam.
Tekanan datang merata, tapi pukulan paling keras menghantam sektor konsumen non-primer, infrastruktur, dan energi. Ketiganya rontok masing-masing 14,53%, 11,27%, dan 8,84%. Koreksi sedalam ini menunjukkan pelaku pasar tak sekadar ambil untung, tapi cenderung melepas risiko di tengah sentimen yang belum bersahabat.
Aktivitas perdagangan justru membara di tengah kejatuhan. Volume transaksi menembus 228,51 miliar saham dengan nilai Rp124,03 triliun dan frekuensi 13,91 juta kali transaksi. Artinya? Banyak investor memilih keluar posisi, sementara sebagian lainnya berburu harga diskon dengan harapan pantulan teknikal.
Meski indeks berdarah-darah, peluang cuan belum sepenuhnya tertutup. Sejumlah rumah sekuritas melihat potensi rebound jangka pendek pada beberapa saham yang dinilai sudah terkoreksi berlebihan.
Rekomendasi saham hari ini, Senin (9/2/2026), dirangkum dari berbagai broker:
Dari BRI Danareksa Sekuritas: PANI, ACES.
Dari BNI Sekuritas: JPFA, HRTA, BUMI, ARCI, AGII.
Dari Phillip Sekuritas Indonesia: WIIM, CMRY.
Dari Phintraco Sekuritas: PANI, TLKM, PNLF, CMRY, INTP, ERAL.
Dari MNC Sekuritas: AMRT, AUTO, INDF, NCKL.
Dari CGS International Sekuritas Indonesia: CMRY, PGAS, SMGR, UNVR, TLKM, ELSA.
Dari Panin Sekuritas: MBMA, MAPI, PWON.
Dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia: ADMR, ADRO, INDY.
Tetap perlu digarisbawahi, rekomendasi ini umumnya berbasis analisis teknikal jangka pendek di tengah kondisi indeks yang masih rapuh. Selama IHSG belum mampu kembali stabil di atas area psikologis 8.000, bayang-bayang volatilitas tinggi masih akan menghantui. Buat trader agresif, ini ladang peluang. Buat investor konservatif, ini alarm untuk lebih selektif dan disiplin pasang batas risiko.



