IHSG Menggila! Tembus Rekor dan Hampir Sentuh 9.000 di Tengah Panasnya Konflik Venezuela–AS
BEI (Foto: Dok Kakinews.id)
Jakarta, Kakinews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan solid sepanjang perdagangan 5–9 Januari 2026 dan menutup pekan di zona hijau, di tengah meningkatnya aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penguatan ini terjadi meski tensi geopolitik antara Venezuela dan Amerika Serikat kian memanas.
Berdasarkan data BEI, IHSG menguat 2,16% secara mingguan dan ditutup di level 8.936,754, naik dari posisi 8.748,132 pada pekan sebelumnya. Pada Rabu (7/1/2026), IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.944,813. Sehari berselang, indeks sempat menembus level psikologis 9.000 secara intraday dengan puncak di 9.002,92, menegaskan kuatnya sentimen pasar.
Sejalan dengan reli indeks, aktivitas perdagangan turut melonjak signifikan. Rata-rata volume transaksi harian BEI melesat 48,08% menjadi 61,78 miliar lembar saham, dari sebelumnya 41,72 miliar lembar saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga melonjak 44,68% menjadi Rp31,45 triliun dari Rp21,74 triliun, sementara rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 42,74% menjadi 3,98 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar BEI ikut terkerek naik sebesar 1,79% menjadi Rp16.301 triliun, dibandingkan Rp16.014 triliun pada pekan sebelumnya, mencerminkan penguatan valuasi pasar secara menyeluruh.
Dari sisi investor asing, pada perdagangan terakhir pekan ini tercatat beli bersih (net buy) sebesar Rp2,56 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing telah membukukan beli bersih senilai Rp3,1 triliun, menandakan kembalinya kepercayaan terhadap pasar modal domestik.
Tak hanya di pasar saham, sepanjang periode 5–9 Januari 2026 BEI juga mencatatkan tiga obligasi dan satu sukuk. Di antaranya adalah Obligasi Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap III Tahun 2025 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap II Tahun 2025 yang diterbitkan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), masing-masing senilai Rp210 miliar dan Rp290 miliar.
Selain itu, Obligasi Berkelanjutan V Summarecon Agung Tahap I Tahun 2025 yang diterbitkan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mulai tercatat dengan nilai nominal Rp351,96 miliar. Sementara itu, Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 milik PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tercatat dengan nilai nominal Rp500 miliar.
Secara kumulatif sepanjang 2026, telah tercatat empat emisi obligasi dan sukuk dari tiga emiten dengan total nilai mencapai Rp216,97 triliun.
Dengan tambahan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI kini mencapai 662 emisi, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp539,79 triliun dan US$134,01 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten.
Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp6.484,29 triliun dan US$352,10 juta. Di luar itu, terdapat enam emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan total nilai mencapai Rp3,99 triliun.

