BERITA UTAMA Internasional

Jadi Target AS Berikutnya, Kolombia Siap Melawan

Jadi Target AS Berikutnya, Kolombia Siap Melawan
Kolombia mengerahkan 30.000 personel ke perbatasan Venezuela usai Amerika Serikat menggempur Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro. (Foto REUTERS)

KAKI.News, BOGOTA – Ketegangan geopolitik di Amerika Latin kembali meningkat tajam setelah Amerika Serikat menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dari kekuasaan.

Presiden AS Donald Trump kini mengalihkan sorotan ke Kolombia, negara sekutu lama Washington, dengan ancaman terbuka yang memicu reaksi keras dari Presiden Kolombia Gustavo Petro.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Minggu (4/1/2026).

Ia menyebut Kolombia sebagai negara yang “sangat sakit” dan menuding pemerintahannya dikuasai oleh jaringan narkotika. Tuduhan tersebut secara langsung diarahkan kepada Presiden Petro.

“Dia punya pabrik kokain dan fasilitas pengolahan kokain, dan dia tidak akan melakukannya terlalu lama,” ujar Trump, seperti dikutip media internasional.

Saat ditanya apakah Kolombia berpotensi menjadi target operasi militer AS seperti Venezuela, Trump menjawab singkat, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

Pernyataan itu memicu kekhawatiran luas, mengingat Kolombia selama puluhan tahun merupakan mitra strategis AS dalam perang melawan narkotika.

Meski Kolombia dikenal sebagai produsen kokain terbesar dunia, tidak ada bukti yang mengaitkan Petro—yang terpilih pada 2022—dengan aktivitas perdagangan narkoba.

Hubungan Washington–Bogota diketahui memburuk sejak Trump kembali berkuasa.

Sejumlah kebijakan keras, termasuk pencabutan visa Petro dan sanksi finansial terhadap lingkaran dekatnya, memperlebar jurang diplomatik kedua negara.

Menanggapi tudingan Trump, Presiden Petro dengan tegas membantah.

Melalui pernyataan di media sosial, ia menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah politik.

“Saya bukan tidak sah dan saya bukan seorang narco. Trump berbicara tanpa pengetahuan. Hentikan memfitnah saya,” tegas Petro.

Petro bahkan mengeluarkan peringatan keras jika AS benar-benar melancarkan serangan militer.

Menurutnya, tindakan tersebut justru akan memicu perlawanan rakyat secara luas.

“Jika mereka mengebom, para petani akan berubah menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan.

Dan jika presiden yang dicintai rakyat ditangkap, mereka akan melepaskan ‘jaguar’ perlawanan,” ujar Petro.

Presiden Kolombia itu memang memiliki latar belakang sebagai mantan anggota kelompok gerilya kiri M-19 pada masa mudanya.

Meski demikian, setelah kelompok tersebut membubarkan diri pada awal 1990-an, Petro beralih ke jalur politik dan menjadi salah satu tokoh penting dalam penyusunan Konstitusi Kolombia 1991 sebelum akhirnya terpilih sebagai presiden.

Seiring meningkatnya eskalasi, Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sánchez mengumumkan pengamanan terhadap Presiden Petro telah diperketat.

Ancaman Trump juga memicu reaksi beragam di dalam negeri Kolombia. Meski sebagian kecil oposisi sayap kanan menyatakan dukungan terhadap AS, mayoritas spektrum politik justru menolak kemungkinan intervensi militer asing.

Di saat yang sama, AS dilaporkan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dan Samudra Pasifik timur, termasuk operasi terhadap kapal-kapal yang dicurigai terkait jaringan narkoba, sebagai bagian dari tekanan lanjutan terhadap rezim Venezuela.

Situasi ini menandai fase baru ketegangan Amerika Serikat di Amerika Latin, dengan Kolombia kini berada di pusaran konflik geopolitik yang kian memanas pasca tumbangnya Nicolás Maduro.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *