Jejak Duit Suap Impor Terkuak! KPK Buru Safe House Lain, Modus Penyembunyian Uang Makin Terbongkar
Ketua KPK Setyo Budiyanto (Foto: Dok KN)
Kakinews.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menguak lapisan demi lapisan dugaan suap impor di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kini, penyidik tak hanya menelusuri aliran uang, tetapi juga memburu jejak lokasi tersembunyi yang diduga menjadi tempat penyimpanan dana haram — termasuk kemungkinan adanya safe house lain yang belum terungkap.
Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan, pencarian belum berhenti. Lembaganya masih memburu titik-titik persembunyian uang hasil korupsi yang diduga sengaja disamarkan para pelaku.
“Kami akan melakukan pendalaman untuk bisa menelusuri apakah masih ada safe house yang lain,” kata Setyo, Minggu (22/2/2026).
Sejauh ini, dua lokasi sudah terbongkar lewat Operasi Tangkap Tangan (OTT): sebuah rumah dan sebuah apartemen. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa praktik penyimpanan uang suap dilakukan secara sistematis, dengan lokasi khusus yang disiapkan untuk menyembunyikan hasil kejahatan.
“Berarti ada indikasi bahwa mereka menggunakan cara-cara seperti itu,” ujarnya.
Setyo menegaskan, praktik menyembunyikan uang korupsi di lokasi tertentu sebenarnya bukan hal baru. Namun istilah safe house mencuat karena justru digunakan sendiri oleh para pelaku — seolah menjadi istilah internal untuk operasi penyembunyian dana ilegal.
Ia juga menekankan, safe house tidak selalu berbentuk rumah permanen. Tempat penyimpanan bisa beragam, mulai dari properti tetap hingga lokasi yang bisa berpindah.
“Safe house bisa saja rumah, apartemen, atau ditempatkan di lokasi tertentu, baik yang tidak bergerak maupun yang bergerak,” jelasnya.
Temuan ini membuat KPK memperluas perburuan. Penyidik kini berupaya membongkar seluruh jaringan, pola pergerakan uang, hingga kemungkinan lokasi lain yang dipakai untuk menimbun aset hasil suap impor.
Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dugaan suap dan/atau gratifikasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.
Kasus bermula dari OTT yang digelar di Jakarta dan Lampung pada Rabu (4/2/2026). Operasi senyap itu membidik dugaan praktik suap dalam proses importasi barang — sebuah celah yang diduga dimanfaatkan untuk permainan uang di balik layanan negara.
Enam tersangka tersebut adalah:
-
Rizal (RZL), mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC
-
Sisprian Subiaksono (SIS), Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan DJBC
-
Orlando (ORL), Kepala Seksi Intelijen DJBC
-
Jhon Field (JF), pemilik PT Blueray
-
Andri (AND), Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray
-
Dedy Kurniawan (DK), Manajer Operasional PT Blueray
Dengan pengungkapan safe house yang mulai terkuak, penyidikan kini memasuki babak baru — bukan sekadar memburu pelaku, tetapi membongkar sistem penyembunyian uang yang diduga telah dirancang rapi di balik praktik suap impor.

