Ketua PN Depok Tamat: Saat Keadilan Masuk Keranjang, KPK Datang Bawa Peluit

Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta (Foto: Dok Kakinews.id)
Kakinews.id – Babak pahit menimpa pucuk pimpinan Pengadilan Negeri Depok. Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta dan wakilnya Bambang Setyawan ditangkap dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan permainan percepatan eksekusi sengketa lahan. Di mata publik, ini seperti vonis moral sebelum sidang dimulai: ketua pengadilan justru “tamat” di tangan lembaga antirasuah.
KPK tak bergerak sendiri. Tiga nama lain ikut ditetapkan sebagai tersangka, yakni juru sita PN Depok Yohansyah Maruanaya, Direktur Utama PT Karabha Digdaya Trisnadi Yulrisman, serta Head Corporate Legal perusahaan itu Berliana Tri Kusuma. Dari OTT tersebut, tim mengamankan uang tunai Rp 850 juta yang diduga sebagai imbalan mempercepat eksekusi lahan.
Perkara ini bermula dari sengketa lahan 6.500 meter persegi di Tapos, Depok, yang dimenangkan PT Karabha Digdaya hingga tingkat kasasi. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi eksekusi tak kunjung berjalan meski permohonan diajukan sejak awal 2025. Di titik inilah dugaan “jalur belakang” muncul.
Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu membeberkan konstruksi perkara. “PT KD beberapa kali mengajukan permohonan eksekusi karena lahan tersebut akan segera dimanfaatkan,” ujarnya, Jumat (6/2/2026) malam. Namun, di tengah proses itu, Yohansyah disebut menjadi penghubung antara pihak pengadilan dan perusahaan. Dari sanalah, menurut KPK, muncul permintaan imbalan.
“YOH dan BER bertemu untuk membahas penetapan waktu pelaksanaan eksekusi pengosongan lahan dan permintaan fee untuk percepatan eksekusi,” kata Asep. Nilai awal yang diminta disebut Rp 1 miliar, sebelum akhirnya disepakati Rp 850 juta. Uang itu diduga disiapkan lewat skema pencairan cek dengan underlying invoice fiktif.
Yang membuat perkara ini terasa menampar wajah peradilan, keputusan eksekusi justru terbit setelah proses lobi gelap itu berjalan. Bambang disebut menyusun resume pelaksanaan eksekusi yang kemudian menjadi dasar penetapan oleh ketua PN. “Kalau dilihat dari pengusulannya di Januari 2025, kemudian Februari 2025 belum juga ditetapkan, dan baru ditetapkan pada Januari 2026, artinya ini sudah sampai satu tahun,” ujar Asep.
Penyerahan uang Rp 850 juta terjadi di Emeralda Golf Club. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan tim sudah mengendus pergerakan sejak dini hari. “Tim sudah bersiap sejak dini hari. Ditunggu sampai pagi, belum juga dilakukan penyerahan,” ujarnya. Pergerakan kendaraan dipantau hingga akhirnya tiga mobil terdeteksi berada di lokasi yang sama.
“Penyerahan uang terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Sebelum diamankan juga sempat terjadi pengejaran,” kata Budi. Dari tas ransel yang dibawa Yohansyah, penyidik menemukan uang Rp 850 juta. Setelah itu, satu per satu pihak lain diamankan, termasuk Bambang dan jajaran perusahaan, hingga akhirnya Ketua PN Depok ditangkap di rumah dinasnya.
KPK menegaskan perkara ini masih dalam pengembangan. Namun pesan keras sudah telanjur sampai ke publik: ketika ruang sidang diduga berubah jadi ruang transaksi, palu hakim tak lagi terdengar seperti simbol keadilan—melainkan gema tawar-menawar yang akhirnya dihentikan paksa oleh OTT.

