BERITA UTAMA Ekonomi dan Bisnis

Kilang RDMP Balikpapan Diresmikan Prabowo: Terobosan Energi yang Mengguncang Mafia Migas

Kilang RDMP Balikpapan Diresmikan Prabowo: Terobosan Energi yang Mengguncang Mafia Migas

Andre Vincent Wenas, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP) (Foto: Dok Kakinews.id)

Kakinews.id – Lebih dari satu dekade sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 146 Tahun 2015 tentang Pembangunan dan Pengembangan Kilang Minyak Dalam Negeri, proyek strategis yang lama mandek itu akhirnya berdiri nyata. Kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan resmi dioperasikan dan diresmikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026.

Perpres tersebut ditandatangani Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 22 Desember 2015, hanya setahun setelah ia dilantik. Namun realisasi proyek baru terjadi 11 tahun kemudian—sebuah jeda waktu yang memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari lambannya pembangunan kilang nasional?

Andre Vincent Wenas, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), menyebut proyek RDMP Balikpapan sebagai bukti bahwa kedaulatan energi bukan sekadar jargon, melainkan medan pertempuran politik-ekonomi yang keras. “Ini bukan hanya proyek infrastruktur, tapi perlawanan terbuka terhadap struktur rente impor migas yang selama puluhan tahun menggerogoti negara,” ujarnya kepada Kakinews.id, Jumat (23/1/2026).

Dalam peresmian tersebut, Prabowo menegaskan kemandirian energi sebagai syarat mutlak negara merdeka. Menurutnya, tidak masuk akal sebuah bangsa berbicara kedaulatan jika masih menggantungkan energi dan pangan dari luar negeri. Dengan cadangan batubara, minyak dan gas, serta panas bumi yang besar, Indonesia seharusnya berdiri di atas kaki sendiri.

Proyek RDMP Balikpapan menelan investasi sekitar USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Hasilnya bukan kosmetik: kapasitas kilang melonjak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, dengan kualitas BBM setara standar Euro V. Indeks Kompleksitas Kilang melonjak drastis dari 3,7 menjadi 8, sementara nilai produk meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi hulu–hilir. Dimulai dari pembangunan pipa Senipah sepanjang 78 kilometer, proyek ini menjadikan unit RFCC sebagai jantung kilang—mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi. Infrastruktur pendukungnya mencakup terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter dan tangki penyimpanan di Lawe-Lawe yang mampu menampung dua juta barel BBM.

Secara matematis, dampaknya brutal bagi bisnis impor. Produksi bensin melonjak dari 42 ribu menjadi 241 ribu barel per hari. Produksi diesel naik dari 125 ribu menjadi 160 ribu barel per hari. Setiap barel yang diproduksi di dalam negeri adalah lubang yang tertutup bagi mafia impor BBM.

Selama ini, skema yang berulang terjadi: Indonesia mengekspor minyak mentah ke Singapura, lalu mengimpor BBM dengan harga lebih mahal. Kebutuhan nasional mencapai 1,3 juta barel per hari, sementara produksi minyak mentah hanya sekitar 825 ribu barel per hari. Dengan total daya olah kilang Pertamina sekitar 1,18 juta barel per hari—dan Balikpapan kini menjadi tulang punggung baru—ruang gerak mafia impor makin menyempit.

Perlu dicatat, kilang Balongan yang dibangun pada 1995 adalah kilang terakhir sebelum era Jokowi. Selama hampir tiga dekade, Indonesia absen membangun kilang baru. Baru pada periode Jokowi inisiatif kedaulatan energi kembali dihidupkan—dan kini diteruskan secara terbuka oleh rezim Prabowo-Gibran.

Tak mengherankan jika proyek ini menjadi momok menakutkan. Pada 2025, aparat penegak hukum mulai menangkap kaki tangan jaringan impor migas, termasuk Kerry Adrianto, anak Riza Chalid. Namun sang gembong besar hingga kini masih menghilang. Nama Riza Chalid sendiri bukan sosok asing di lingkaran elite, bahkan pernah tampil di ruang-ruang politik bergengsi.

Jika seluruh simpul konspirasi mafia migas ini dibuka di pengadilan, publik akan menyaksikan siapa saja yang selama ini bermain di balik layar: oknum pemerintahan, BUMN, partai politik, hingga wakil rakyat yang tampil suci di depan kamera namun menghisap rente negara di belakang meja.

Retaliasi bisa dipastikan terjadi. Serangan opini, hoaks, dan buzzer akan terus dimainkan untuk membelokkan persepsi publik. Kepentingan yang terganggu nilainya triliunan rupiah. Mereka tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Peresmian RDMP Balikpapan menandai satu hal penting: jalur Indonesia menuju swasembada energi berada di rel yang benar. Ini bukan sekadar kelanjutan proyek, melainkan keputusan politik yang berani dan berisiko tinggi.

Sejarah pernah diingatkan oleh Henry Kissinger: “Control oil and you control nations, control food and you control the people.”
Indonesia kini mulai merebut kembali kendali itu—dan karena itulah, para mafia migas mulai ketakutan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *