KPK Sapu Bersih Balai Kota Madiun, Sekda Pilih “Kabur” Saat 5 Koper Dokumen Diboyong Penyidik

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengobrak-abrik sejumlah ruangan penting, Kamis (29/1/2026) (Foto: Dok Kakinews.id)
Kakinews.id – Balai Kota Madiun berubah jadi “zona merah” saat tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengobrak-abrik sejumlah ruangan penting, Kamis (29/1/2026). Penggeledahan maraton itu tak hanya menyita perhatian, tapi juga memunculkan gelagat mencurigakan dari pejabat teras Pemkot.
Selama sekitar tujuh jam lebih, penyidik KPK keluar-masuk ruangan strategis. Mereka tak datang main-main. Hasilnya, lima koper penuh dokumen diboyong keluar gedung pemerintahan tersebut.
Yang bikin sorotan makin tajam, Sekda Kota Madiun Soeko Dwi Hardianto yang sejak awal mendampingi tim KPK, justru memilih kabur dari sorotan publik. Saat awak media menunggu di pintu depan, ia diduga pulang diam-diam lewat pintu belakang. Sementara para penyidik KPK keluar terang-terangan lewat akses utama.
Sikap itu langsung memantik tanda tanya. Mengapa pejabat setingkat Sekda memilih menghindar di momen sepenting itu?
Penggeledahan berlangsung sejak pagi dan baru rampung sekitar pukul 15.15 WIB. Pantauan di lokasi menunjukkan delapan mobil hitam terparkir di halaman Balai Kota, diduga kendaraan operasional tim KPK. Penyidik menyisir banyak titik: ruang kerja Wali Kota Madiun nonaktif Maidi, Wakil Wali Kota F Bagus Panuntun, Sekda, bagian umum, para asisten, hingga staf ahli. Hampir tak ada sudut strategis yang luput.
Pengamanan pun dibuat ekstra ketat. Anggota Polres Madiun Kota berjaga dengan senjata lengkap. Akses keluar-masuk gedung diperketat, seolah Balai Kota sedang dalam status darurat.
Tak hanya ruangan, kendaraan pejabat pun ikut digeledah. Setidaknya dua mobil diperiksa detail — dari kursi, dashboard, sampai interior. Mobil-mobil itu disebut biasa dipakai pejabat bagian umum Setda Kota Madiun.
Saat penggeledahan usai, para penyidik keluar beriringan sambil menarik lima koper berwarna gelap — tiga ukuran besar dan dua kecil. Koper-koper itu langsung dimasukkan ke mobil sekitar pukul 15.00 WIB. Kuat dugaan, isinya berkaitan dengan penyidikan dugaan korupsi fee proyek dan dana CSR.
Kasus ini sudah menyeret nama besar: Wali Kota Madiun nonaktif Maidi, Kepala Dinas PUPR Thariq Megah, serta pihak swasta yang disebut sebagai orang kepercayaan Maidi, Rochim Ruhdiyanto.
Rangkaian penggeledahan KPK sebelumnya juga tak kalah masif. Sejak 21 Januari 2026, tim antirasuah menyisir rumah pribadi Maidi, kediaman Kadis PUPR, kantor DPMPTSP, ruko di Jalan S Parman, Kantor Dinas PUPR, rumah Ketua PBSI Kota Madiun, hingga kantor Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup. Bahkan rumah seorang ASN pun ikut digeledah.
Rentetan lokasi itu menunjukkan satu hal: penyidik sedang membongkar dugaan korupsi yang diduga terstruktur dan melibatkan banyak simpul di lingkungan Pemkot Madiun.
Dan di tengah pusaran itu, langkah seorang Sekda yang memilih keluar lewat pintu belakang justru membuat publik makin bertanya-tanya — apa yang sebenarnya sedang diselamatkan?



