Operasi SAR Pesawat ATR di Bulusaraung Resmi Diakhiri, Black Box Sudah Diamankan
Panglima Kodam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko (kanan) disaksikan Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan (kiri) memperlihatkan alat perekaman penerbangan atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 di posko aju Tompo Bulu, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026). Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua kotak hitam atau perekam penerbangan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak pada Sabtu (17/1) yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). (Foto: Antara Foto/Arnas Padda/wsj).
Kakinews.id – Operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, resmi diakhiri. Keputusan penghentian operasi tersebut diumumkan oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, pada Jumat malam, 23 Januari 2026.
Syafii menyatakan bahwa penutupan operasi dilakukan setelah seluruh proses pencarian dan evakuasi dinilai telah dilaksanakan secara optimal, disertai evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan yang ekstrem.
“Setelah mempertimbangkan hasil pencarian, evakuasi, serta evaluasi yang kami lakukan bersama seluruh unsur di lapangan, maka Operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 kami nyatakan ditutup,” ujar Syafii.
Selama pelaksanaan operasi, tim SAR gabungan berhasil menemukan 11 paket korban, terdiri dari 10 kantong jenazah dan satu paket bagian tubuh. Seluruh temuan tersebut telah dievakuasi dari lokasi kejadian dan diserahkan kepada Bidokkes Polda Sulawesi Selatan untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut.
“Seluruh paket yang ditemukan sudah kami serahkan ke Bidokkes Polda Sulsel untuk dilakukan identifikasi sesuai prosedur yang berlaku,” jelasnya.
Selain korban, tim SAR juga berhasil mengamankan kotak perekam data penerbangan atau black box pada hari kelima pencarian. Saat ini, perangkat penting tersebut tengah dianalisis oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi guna mengungkap penyebab teknis kecelakaan.
“Black box yang ditemukan kini ditangani oleh KNKT sebagai bagian dari proses investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan secara teknis,” kata Syafii.
Meski operasi SAR telah ditutup, Basarnas menegaskan masih menunggu hasil resmi identifikasi korban dan pencocokan data manifest penumpang. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, operasi pencarian tidak menutup kemungkinan untuk kembali dibuka.
“Jika nantinya hasil identifikasi menunjukkan jumlah korban tidak sesuai dengan manifest, maka operasi SAR bisa kembali dilanjutkan,” tegasnya.
Penutupan operasi ini sekaligus mengakhiri rangkaian panjang misi kemanusiaan yang melibatkan berbagai unsur SAR gabungan. Proses pencarian dilakukan di tengah medan pegunungan terjal dan kondisi cuaca yang kerap berubah, menjadi tantangan berat sepanjang operasi berlangsung.

