PT Borneo Indobara Luncurkan Elektrifikasi, Dorong Transformasi Pertambangan Berkelanjutan

Sambutan Raden Utoro, COO PT BIB, dalam Ceremony of Electrification and Green Mining Realization, Senin (9/2/2026), di Office Kusan PT Borneo Indobara. (Foto: Istimewa)
KAKINEWS, BATU LICIN – PT Borneo Indobara (BIB) mulai menginisiasi transformasi sektor pertambangan melalui program elektrifikasi alat berat. Langkah ini menandai pergeseran industri pertambangan yang selama ini identik dengan konsumsi bahan bakar fosil menuju penggunaan energi listrik yang lebih ramah lingkungan.
Elektrifikasi dinilai menjadi strategi utama perusahaan tambang untuk menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Hal tersebut disampaikan Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BIB dalam acara Launching penggunaan peralatan tambang berbasis listrik yang digelar pada Senin (9/2/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-20 PT BIB.

Acara tersebut dihadiri jajaran manajemen PT Borneo Indobara, di antaranya COO PT BIB Raden Utoro dan CEO PT BIB Bonifasius, mitra kerja kontraktor, perwakilan Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Selatan, BMKG, PT PLN Kalselteng, serta para kepala desa di sekitar wilayah pertambangan PT BIB.
Dalam kesempatan itu juga dideklarasikan komitmen transformasi perusahaan sebagai langkah strategis untuk memastikan PT Borneo Indo Bara tetap relevan, kokoh, dan berkelanjutan di tengah perubahan global yang semakin cepat dan kompleks, dengan mengusung visi “Sustainable Green Mining, Illuminating the World.”
“Kita hidup di era krisis multidimensi, khususnya krisis lingkungan. Karena itu, sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi di sektor pertambangan, PT BIB harus mencari solusi yang tepat. Elektrifikasi adalah sebuah keharusan dalam mendukung operasional pertambangan,” tegas Riadi Es Penem.
Sementara itu, COO PT Borneo Indobara Raden Utoro menjelaskan bahwa program elektrifikasi alat-alat tambang listrik dan hybrid akan dilakukan secara masif. Menurutnya, inisiatif tersebut merupakan yang pertama di industri pertambangan Indonesia.
“Target realisasi penggunaan alat tambang listrik di PT BIB pada tahun 2026 adalah 25 persen dari total armada yang ada. Dalam dua tahun ke depan, minimal 75 persen armada akan terealisasi, dengan sebagian transisi menggunakan peralatan hybrid sebelum sepenuhnya beralih ke listrik,” jelasnya.
Untuk mendukung program tersebut, PT BIB akan bekerja sama dengan PT PLN dalam pembangunan jaringan transmisi, distribusi, serta gardu induk PLN dan gardu induk internal PT BIB. Dengan terealisasinya program elektrifikasi, PT BIB menargetkan pencapaian zero emission pada 2028–2029.
Raden Utoro juga memaparkan bahwa kebutuhan BBM nasional setara sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen sehingga sisanya masih bergantung pada impor. Nilai impor BBM per tahun mencapai sekitar Rp520 triliun.
“Perintah Presiden RI kepada Menteri ESDM jelas, yaitu mengurangi ketergantungan impor BBM dan memaksimalkan sumber energi berkelanjutan. Sebelum beralih ke listrik, PT BIB menghabiskan sekitar Rp7 triliun per tahun untuk BBM. Produksi batubara nasional sendiri membutuhkan BBM sekitar Rp140 triliun dari total impor Rp520 triliun. Dalam 10 tahun terakhir, biaya BBM meningkat lebih dari 300 persen. Dengan kondisi ini, elektrifikasi menjadi keharusan,” ujarnya.
Menurutnya, komitmen PT BIB menuju energi yang lebih bersih tidak hanya mendukung green mining, tetapi juga membantu mengurangi beban pemerintah dalam impor BBM.
Rangkaian kegiatan launching juga diramaikan dengan expo atau pameran alat berat, serta seremoni serah terima peralatan tambang hybrid sebagai masa transisi menuju listrik penuh, termasuk alat-alat tambang listrik yang akan dioperasikan di wilayah pertambangan PT Borneo Indobara.


