BERITA UTAMA Ekonomi dan Bisnis

Saat Bursa Terpukul, Pucuk Pengawas Keuangan Justru Mundur Berjamaah

Saat Bursa Terpukul, Pucuk Pengawas Keuangan Justru Mundur Berjamaah

OJK (Foto: Dok Kakinews.id)

Kakinews.id – Gelombang pengunduran diri para petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) datang di saat paling genting. Empat pejabat puncak resmi mundur hampir bersamaan ketika pasar saham masih limbung dihantam tekanan beruntun. Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terperosok dua hari berturut-turut pada 28–29 Januari 2026, langkah mundur itu terasa bukan sekadar pergantian kursi, tapi sinyal keras bahwa ada yang retak di jantung pengawasan pasar modal.

Nama-nama yang menanggalkan jabatan bukan figur sembarangan. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten IB Aditya Jayaantara memilih menepi. Secara formal, OJK menyebut prosesnya mengikuti aturan Undang-Undang OJK dan UU P2SK. Namun di mata pelaku pasar, momentum pengunduran diri massal ini tak bisa dilepaskan dari badai kepercayaan yang sedang menerpa.

Mahendra menyebut keputusan itu sebagai tanggung jawab moral demi pemulihan pasar. Pernyataan normatif, tapi publik membaca lebih dalam: ketika regulator mundur berbarengan saat pasar bergejolak, yang terguncang bukan hanya kursi jabatan, melainkan persepsi stabilitas sistem keuangan. OJK memang menegaskan fungsi pengawasan tetap berjalan, namun bayang-bayang kekosongan kepemimpinan sempat memicu kecemasan baru di lantai bursa.

Tekanan pasar sendiri dipicu sentimen global, terutama sorotan dari MSCI yang kembali menyinggung isu transparansi dan struktur pasar Indonesia. Efeknya menjalar cepat. IHSG melemah, dana asing gelisah, dan reputasi pasar domestik kembali dipertanyakan. Dalam situasi seperti itu, mundurnya para elite regulator justru mempertebal kesan bahwa fondasi tata kelola sedang diuji habis-habisan.

Istana pun turun tangan. Presiden Prabowo Subianto memberi arahan langsung agar stabilitas pasar dijaga dan kepercayaan investor dipulihkan. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto tampil menenangkan, menyebut fundamental ekonomi tetap kuat dan IHSG mulai menghijau. Tapi pasar tak hanya butuh kata-kata penenang; yang ditunggu adalah pembenahan nyata.

Pemerintah menyiapkan paket langkah besar. Demutualisasi Bursa Efek Indonesia dipercepat demi mengurangi konflik kepentingan. Aturan free float akan dinaikkan dua kali lipat agar likuiditas dan keterbukaan meningkat. Batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal juga dilonggarkan untuk menyuntik likuiditas. Semua diarahkan agar struktur pasar Indonesia lebih sejalan dengan standar internasional dan terhindar dari risiko penurunan status oleh MSCI.

Di sisi lain, OJK bergerak cepat menutup celah kepemimpinan. Friderica Widyasari Dewi ditunjuk sebagai pelaksana tugas menggantikan Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner, sementara Hasan Fawzi merangkap posisi pengawas pasar modal. Pesannya tegas: tidak ada kekosongan jabatan. Namun realitasnya, masa transisi di tengah tekanan pasar selalu menjadi periode paling rawan bagi kepercayaan.

Pemerintah juga mengumumkan “bersih-bersih” pasar saham. Praktik spekulatif dan dugaan manipulasi saham gorengan akan ditindak tegas bersama aparat penegak hukum. Narasinya jelas: krisis ini bukan hanya soal sentimen global, tapi juga momentum merapikan rumah sendiri yang selama ini dikeluhkan investor, terutama soal integritas perdagangan.

Rangkaian peristiwa dalam hitungan hari ini membentuk satu pesan keras. Pasar modal Indonesia sedang berada di titik balik. Mundurnya para petinggi OJK bisa dibaca sebagai bentuk tanggung jawab, tapi juga cermin tekanan luar biasa yang sedang dihadapi sistem pengawasan keuangan. Kini pertaruhannya bukan sekadar memulihkan grafik IHSG, melainkan memulihkan kepercayaan bahwa pasar dijaga oleh tata kelola yang kuat, transparan, dan tahan guncangan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *