Kabupaten Tabalong dan Hulu Sungai Utara (HSU) mengalami krisis stok Pertamax di kawasan perkotaan akibat pasokan dari Depo Pertamina yang berkurang drastis.
Kondisi ini sudah berlangsung empat hari tanpa ada pengiriman, sementara kebutuhan masyarakat terus melonjak signifikan.
Pengawas SPBU 64.715.01 Kelurahan Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Irwin Sahrianadi mengatakan kendala pengiriman dari depo membuat stok Pertamax di SPBU-nya mencapai level kritis.
“Pengiriman depo agak kendala membuat stok kami agak kritis. Infonya diutamakan ke provinsi dulu,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Irwin menjelaskan pasokan Pertamax terhitung sudah tidak ada selama empat hari sejak Sabtu (15/11/2025).
Padahal, SPBU 64.715.01 biasanya mendapat kiriman rutin setiap hari sebanyak 8.000 liter yang habis terjual dalam hitungan jam.
“Jika dijual sampai pukul 10 malam, kebutuhan kami seharusnya 16.000 liter sehari,” terang Irwin.
Kebutuhan Pertamax yang melonjak drastis ini dipicu oleh perpindahan konsumen dari Pertalite ke Pertamax.
Perubahan paling signifikan terjadi pada pengguna sepeda motor yang mencapai 75 persen beralih menggunakan Pertamax.
Menurut Irwin, pengguna mobil yang menggunakan Pertamax relatif tetap. Yang berubah signifikan adalah pengendara sepeda motor yang sebelumnya menggunakan Pertalite.
“Kalau untuk pengguna mobil tetap saja, yang berubah signifikan itu sepeda motor. Hampir 75 persen pindah ke Pertamax,” kata Irwin.
Perpindahan masif ini membuat lonjakan kebutuhan Pertamax tidak dapat diimbangi dengan pasokan dari Depo Pertamina.
Informasi yang diterima SPBU menyebutkan pengiriman BBM jenis Pertamax diprioritaskan untuk wilayah provinsi terlebih dahulu.
rwin berharap Depo Pertamina dapat mengetahui kondisi ini dan segera menyuplai Pertamax sesuai kebutuhan masyarakat Tabalong.
Krisis stok yang berlangsung empat hari ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen. “Supaya bisa terpenuhi,” ucap Irwin.
Kepada masyarakat, Irwin mengimbau agar tetap tenang menghadapi situasi ini. Bagi konsumen yang kesulitan mendapatkan Pertamax, ia menawarkan alterna
ia menawarkan alternatif menggunakan Pertalite yang stoknya masih tersedia.
Irwin menegaskan Pertalite yang tersedia saat ini tidak ada masalah untuk digunakan pada kendaraan.
Buktinya, masih ada konsumen yang mengantri membeli Pertalite di SPBU 64.715.01.
“Pertalite yang ada saat ini tidak ada masalah bagi kendaraan.
Pasalnya, pemilik Pertalite masih ada yang mengantri,” jelas Irwin.
Kelangkaan BBM jenis sama jugaterjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Rabu (19/11).
Antara lain di SPBU Desa Pakapuran, Kecamatan Amuntai Utara, serta SPBU Banjang, Kecamatan Banjang, menunjukkan keduanya tidak memiliki stok Pertamax dan hanya menunggu pasokan baru.
Kekosongan Pertamax berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap Pertalite, sehingga stok Pertalite turut menipis bahkan habis di beberapa lokasi.
Kepala Operasional SPBU Pakapuran, H. Sutoyo, menyatakan kekosongan Pertamax sudah berlangsung hampir satu pekan.
“Pertamax masih habis dan kami menunggu pasokan dari pihak terkait.
Informasi yang kami terima, pengiriman terlambat, kemungkinan karena faktor cuaca,” ujarnya.
Untuk sementara, SPBU tersebut memberi toleransi pengisian maksimal 10 liter bagi pengguna Pertamax atau BBM nonsubsidi yang tidak menggunakan barcode. Kebijakan ini hanya berlaku di SPBU Pakapuran.
Dari SPBU Desa Kaludan, Kecamatan Banjang, pihak pengelola mengonfirmasi bahwa stok Pertamax juga kosong dan diperkirakan pasokan baru tiba esok hari.
Di tengah kelangkaan tersebut, Personel Polsek Banjang melakukan patroli dialogis guna memastikan antrean Pertalite tetap tertib.
Ps Kasi Humas Polres HSU, Iptu Asep, menyampaikan bahwa patroli dilakukan untuk mencegah potensi keributan di antrean akibat meningkatnya kebutuhan BBM.
“Petugas berdialog dengan warga dan pihak SPBU, serta memberikan imbauan kamtibmas agar tidak terjadi aksi saling serobot,” ujarnya.

