Suap Impor Terkuak, Enam Tersangka Dijerat — KPK Masih Buru Jejak Uang ke Atas
KPK
Kakinews.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus membongkar jejak aliran dana dalam kasus dugaan suap terkait kegiatan importasi yang menyeret sejumlah pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Penelusuran ini menjadi krusial karena penyidik tidak hanya mengurai praktik suap di level teknis, tetapi juga membuka kemungkinan aliran dana yang menjangkau pucuk pimpinan.
Nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budi Utama, turut masuk dalam radar pendalaman penyidik. Namun hingga saat ini, KPK menyatakan belum menemukan bukti yang menunjukkan adanya aliran uang suap yang mengarah kepada Dirjen tersebut.
“Kelihatannya, sementara belum ada ya, gitu,” kata Ketua KPK Setyo Budiyanto, Sabtu (21/2/2026).
Meski begitu, KPK menegaskan penyidikan masih terus berkembang. Lembaga antirasuah membuka peluang munculnya fakta baru seiring pemeriksaan saksi dan pendalaman bukti yang terus dilakukan. Artinya, peta aliran dana belum sepenuhnya terbuka, dan setiap kemungkinan masih ditelusuri.
Kasus ini sendiri berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang digelar serentak di Jakarta dan Lampung pada Rabu (4/2/2026). Operasi senyap tersebut mengungkap dugaan praktik suap yang berkaitan dengan proses importasi barang—sektor yang selama ini dikenal rawan permainan izin dan pengawasan.
Sejauh ini, KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan suap dan/atau gratifikasi di lingkungan DJBC Kementerian Keuangan, yakni:
-
Rizal (RZL), mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC
-
Sisprian Subiaksono (SIS), Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan DJBC
-
Orlando (ORL), Kepala Seksi Intelijen DJBC
-
Jhon Field (JF), pemilik PT Blueray
-
Andri (AND), Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray
-
Dedy Kurniawan (DK), Manajer Operasional PT Blueray
KPK memastikan pengusutan kasus ini belum berhenti. Penyidik terus menelusuri siapa saja yang diuntungkan, bagaimana aliran dana bergerak, dan apakah praktik suap ini berhenti di level operasional atau menjalar lebih tinggi. Kasus ini berpotensi membuka lapisan baru dalam dugaan praktik korupsi di sektor pengawasan impor.

