
Wawan, pedagang di Pasar Loak Kebayoran Lama yang juga jago bermain biola (foto yus)
KAKI.News, JAKARTA – Sore mulai turun perlahan di kawasan Pasar Loak Kebayoran Lama. Di bawah jembatan, aktivitas jual beli masih berlangsung seperti biasa—tawar-menawar, suara mesin, dan percakapan yang saling bersahutan.
Namun di antara riuh itu, ada satu suara yang berbeda.
Alunan lembut lagu “Dust in the Wind” mengalir pelan, menyusup di sela hiruk-pikuk pasar.
Sesekali nada itu berubah, membawa nuansa balada rock lama yang akrab di telinga.

Sumbernya bukan dari pengeras suara atau radio.
Melainkan dari sebuah biola yang dimainkan seorang pedagang bernama Wawan (53).
Lapaknya kecil dan sederhana. Kabel charger tergantung rapi, adaptor dan konektor tersusun di meja kayu seadanya. Tak ada yang benar-benar mencolok.
Namun ketika pembeli sepi, suasana berubah.
Wawan mengambil biolanya dari balik meja, lalu mulai memainkan lagu-lagu yang ia hafal sejak muda.
“Biar nggak jenuh saja kalau lagi sepi,” ucapnya singkat sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, lapaknya hanya tempat membeli perlengkapan kecil.
Tapi bagi pelanggan lama, Wawan dikenal lebih dari itu.
Ia kerap menjadi perantara bagi pencari barang—mulai dari ponsel bekas, ampli, gitar listrik, hingga perlengkapan musik.
“Kalau nggak ada, biasanya saya bantu carikan,” katanya.
Relasi itu ia bangun selama puluhan tahun berdagang.
Tinggal di kawasan Kebayoran Lama, Wawan mengenal banyak pedagang, teknisi, hingga kolektor barang bekas.
Tak jarang, orang-orang yang datang justru punya latar belakang musik.
“Ada juga yang pemain profesional, cari-cari alat atau yang unik,” ujarnya.
Di balik aktivitas jual beli itu, biola menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.
Wawan belajar secara otodidak sejak muda.
Dari kaset, radio, hingga sekadar mendengar lagu, lalu mencoba menirukan nada demi nada.
Kini, kebiasaan itu tetap ia jaga.
Saat senja datang dan pasar mulai sedikit lengang, biolanya kembali
berbunyi.
Nada-nada sederhana itu mungkin tak menghentikan keramaian, tapi cukup membuat orang yang lewat menoleh.
Di tengah kabel bekas dan barang lama, ada musik yang hidup.
Dan di sudut kecil Pasar Loak Kebayoran Lama, Wawan memainkan perannya—bukan hanya sebagai pedagang, tapi juga penjaga suasana yang tak semua orang sadari.






Tinggalkan Balasan