
KAKINEWS.ID, Jakarta – Peneliti mengembangkan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bernama EpiScreen untuk membantu dokter membedakan epilepsi dan kejang fungsional. Teknologi ini memanfaatkan catatan klinis pasien guna meningkatkan ketepatan klasifikasi kedua kondisi neurologis tersebut.
Dikutip dari News-Medical, Senin (12/10/2026), penelitian tersebut menggunakan data rekam medis 13.633 pasien dari dua institusi. Evaluasi retrospektif terhadap 300 kasus menunjukkan bahwa bantuan AI berpotensi meningkatkan akurasi klasifikasi yang dilakukan dokter spesialis saraf.
“EpiScreen membantu neurolog membedakan epilepsi dari kejang nonepileptik psikogenik dengan memanfaatkan catatan klinis pasien,” demikian gambaran temuan penelitian yang diberitakan News-Medical.
Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan kecenderungan mengalami kejang berulang akibat aktivitas listrik otak yang abnormal. Sementara itu, kejang fungsional atau psychogenic non-epileptic seizures (PNES) dapat menunjukkan gejala menyerupai epilepsi, tetapi tidak disebabkan oleh aktivitas listrik otak abnormal seperti pada kejang epileptik.
Kemiripan gejala tersebut dapat menyulitkan dokter dalam menentukan diagnosis yang tepat. Karena itu, EpiScreen dikembangkan untuk membantu neurolog menganalisis informasi klinis dalam rekam medis pasien sebagai dasar membedakan kedua kondisi tersebut.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, kemampuan sistem AI tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Penelitian prospektif diperlukan untuk memastikan akurasi dan manfaat EpiScreen ketika digunakan dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.
Pengembangan ini menempatkan AI sebagai alat bantu pengambilan keputusan klinis, bukan pengganti pemeriksaan medis maupun penilaian dokter. Hasil analisis sistem tetap perlu dipertimbangkan bersama gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan pasien.
Pemanfaatan AI dalam diagnosis neurologis diharapkan dapat membantu meningkatkan ketepatan identifikasi penyakit, terutama pada kondisi yang memiliki gejala serupa. Namun, penerapan EpiScreen secara rutin masih membutuhkan bukti tambahan untuk memastikan keamanan, keandalan, dan manfaat klinisnya.







