
KAKINEWS.ID, BANJARMASIN – PTAM Bandarmasih merencanakan revitalisasi jaringan perpipaan air baku untuk memperkuat ketahanan pasokan air bersih di Kota Banjarmasin. Langkah ini disiapkan sebagai solusi jangka panjang menyusul gangguan distribusi air akibat intrusi air laut yang memengaruhi sumber air baku.
Program revitalisasi tersebut difokuskan pada jaringan pipa dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) II Pramuka menuju Intake Pematang Panjang. Penambahan jaringan ini diharapkan dapat memperkuat sistem penyediaan air baku sekaligus mengurangi risiko gangguan pelayanan ketika salah satu sumber air tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Gangguan pelayanan air bersih di Banjarmasin terjadi setelah peningkatan kadar garam di Intake Sungai Bilu sejak 9 Agustus 2026. Tingginya kadar klorida membuat intake tersebut tidak dapat dioperasikan untuk pengambilan air baku.
Untuk menjaga pasokan air, PTAM Bandarmasih mengalihkan sumber air baku ke Intake Sungai Tabuk dan Pematang Panjang dengan kapasitas sekitar 5.600 meter kubik per jam. Pasokan tersebut digunakan untuk mendukung operasional IPA I A. Yani dan IPA II Pramuka.
Di sisi lain, perusahaan tetap mengandalkan langkah darurat untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pasokan. Sebanyak 100 unit tandon ditempatkan di sejumlah wilayah terdampak, dengan dukungan 21 armada pengangkut air.

Sepanjang 1–12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.170 kali pengantaran air bersih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sektor sosial, pelanggan niaga, serta pengisian tandon.
Distribusi air juga didukung penyediaan fasilitas keran air tawar gratis di enam titik strategis. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap air bersih selama sistem distribusi belum sepenuhnya pulih.
Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan perusahaan juga tengah mendata pelanggan yang terdampak untuk merumuskan skema kompensasi.
“Secepatnya. Setelah pendataan selesai dan hasil perhitungannya dinilai ideal, akan kami bawa ke forum untuk dibahas dan ditetapkan nilai yang tepat,” ujar Zulbadi dalam jumpa pers di Banjarmasin, Selasa (13/10/2026).
Usulan kompensasi tersebut selanjutnya akan dibahas melalui forum yang berwenang untuk menentukan bentuk dan besaran kompensasi bagi pelanggan terdampak.
Selain penanganan darurat dan pendataan kompensasi, revitalisasi jaringan perpipaan menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur penyediaan air bersih. Dengan perbaikan sistem pasokan air baku, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan keandalan pelayanan sekaligus mengantisipasi potensi gangguan serupa pada masa mendatang.







