
KAKINEWS.ID, Jakarta – Gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,1 kembali mengguncang wilayah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (18/10/2026). Gempa tersebut merupakan bagian dari aktivitas seismik yang masih berlangsung setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Pakar gempa bumi Daryono menjelaskan, gempa susulan yang masih terjadi di Flores berkaitan dengan proses penyesuaian kembali tegangan kerak bumi setelah gempa utama.
“Secara seismologis, gempa susulan yang masih terjadi di Flores setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026 dapat dijelaskan sebagai bagian dari proses penyesuaian kembali tegangan kerak bumi (crustal stress readjustment),” tulis Daryono.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa M5,1 terjadi pada pukul 15.00.08 WIB dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa terletak di laut, sekitar 53 kilometer barat laut Ruteng.
Gempa tersebut dipicu aktivitas Sesar Flores Back-arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Guncangan mencapai intensitas IV MMI dan dirasakan di Macang Pacar, Reok Barat, serta Reok. BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Daryono menjelaskan, gempa utama bermagnitudo 7,7 menyebabkan perubahan tegangan kerak bumi dalam wilayah yang luas. Pelepasan energi saat gempa besar tidak serta-merta menghilangkan seluruh tegangan di sekitar sumber gempa.
Sebaliknya, perubahan tersebut dapat memicu redistribusi tegangan yang menyebabkan gempa susulan pada bidang sesar utama maupun struktur sesar di sekitarnya.
“Setelah gempa besar, batuan di sekitar zona patahan masih mengalami penyesuaian mekanis. Karena itu, gempa susulan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan lebih lama,” jelasnya.
Menurut Daryono, frekuensi gempa susulan umumnya menurun seiring waktu mengikuti Hukum Omori-Utsu. Namun, penurunan tersebut tidak selalu berlangsung secara teratur sehingga gempa dengan magnitudo signifikan masih dapat terjadi.
Ia juga menjelaskan, perubahan tegangan akibat gempa utama berpotensi memengaruhi struktur sesar lain di sekitarnya. Meski demikian, keterlibatan sesar lain perlu dipastikan melalui analisis lokasi hiposenter, mekanisme sumber gempa, dan perubahan tegangan Coulomb.
Daryono menilai, penurunan frekuensi gempa susulan tidak berarti kemungkinan terjadinya gempa yang masih terasa kuat telah sepenuhnya berakhir.
“Gempa susulan Flores yang masih berlangsung tidak otomatis menandakan akan terjadi gempa yang lebih besar,” tulisnya.
Ia menegaskan, setiap gempa signifikan perlu dianalisis berdasarkan mekanisme sumber dan posisi hiposenternya untuk memastikan apakah gempa tersebut masih termasuk rangkaian susulan atau berkaitan dengan aktivitas sesar lainnya.








