
Oleh Satrio Arismunandar*
JAKARTA, KAKINEWS.ID – Eropa sedang menghadapi gelombang keresahan sosial yang melintasi batas negara.
Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Belgia, hingga Albania mengalami demonstrasi besar, aksi mogok, pendudukan ruang publik, dan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Di beberapa tempat, demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan, disertai pembakaran, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan.
Gelombang ini berlangsung dalam waktu berdekatan, tetapi tidak seluruhnya mempunyai penyebab yang sama.

Di Prancis, protes bermula dari persoalan pendidikan dan kekurangan guru, lalu meluas menjadi kritik terhadap biaya hidup dan layanan publik.
Di Spanyol dan Portugal, persoalan perumahan menjadi sumber kemarahan.
Di Italia, tekanan biaya hidup dan persoalan layanan publik ikut mendorong demonstrasi. Sementara di Albania, tuntutan antikorupsi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah menjadi bagian penting dari gerakan protes.
Pertanyaan besarnya: apakah Eropa sedang menyaksikan lahirnya revolusi generasi muda, ataukah kita sedang melihat krisis yang lebih mendasar dalam hubungan antara negara dan masyarakat?
Jawabannya mungkin mencakup keduanya. Generasi muda memang menjadi salah satu motor penting mobilisasi, tetapi keresahan yang mereka suarakan berakar pada persoalan struktural yang juga dirasakan kelompok usia lain.
Pemicu Berbeda, Keresahan Serupa
Di Prancis, gelombang protes pelajar mencuat akibat kekurangan guru, ruang kelas yang padat, dan buruknya fasilitas sekolah.
Tuntutan tersebut kemudian bertemu dengan ketidakpuasan pekerja dan kelompok masyarakat lain terhadap meningkatnya biaya hidup, tekanan fiskal, serta kualitas pelayanan publik.
Di Spanyol, krisis perumahan menjadi persoalan yang sangat nyata. Harga sewa yang tinggi membuat banyak anak muda kesulitan hidup mandiri, bahkan ketika mereka telah bekerja.
Situasi serupa terlihat di Portugal, tempat kenaikan harga rumah dan sewa memperlebar jarak antara pendapatan masyarakat dan biaya untuk memperoleh tempat tinggal.
Italia menghadapi keresahan mengenai daya beli dan layanan publik, sementara di Belgia demonstrasi pelajar turut dipicu persoalan biaya pendidikan.
Di Albania, gerakan protes yang berkembang sejak Mei 2026 terkait kontroversi pembangunan kawasan pesisir yang dilindungi kemudian bertemu dengan kemarahan atas dugaan korupsi dan ketidakpuasan terhadap sistem politik.
Pelajar ikut bergabung ketika gerakan itu meningkat pada Oktober.
Dengan demikian, tidak ada satu pemicu tunggal yang menjelaskan semua kerusuhan tersebut. Setiap negara mempunyai sejarah politik, kondisi ekonomi, dan persoalan domestik yang berbeda.
Namun, di balik perbedaan itu terdapat kemiripan: banyak warga merasa semakin sulit memperoleh kehidupan yang layak, sementara institusi politik dianggap tidak cukup cepat atau efektif menjawab kebutuhan mereka. Inilah benang merah pertama dari gelombang keresahan Eropa.
Benang Merahnya: Masa Depan yang Semakin Sulit Dijangkau
Jika harus dirumuskan dalam satu kalimat, keresahan yang menyatukan berbagai protes ini adalah menurunnya keyakinan bahwa bekerja keras, belajar, dan menaati aturan akan menjamin kehidupan yang lebih baik.
Selama puluhan tahun, salah satu janji utama masyarakat Eropa modern adalah mobilitas sosial. Pendidikan membuka peluang kerja, pekerjaan memberikan penghasilan, dan penghasilan memungkinkan seseorang memiliki rumah serta membangun keluarga.
Namun, janji itu semakin sulit diwujudkan bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda.
Seseorang bisa mempunyai gelar pendidikan tetapi menghadapi persaingan kerja yang ketat. Ia bisa memperoleh pekerjaan, tetapi pendapatannya tidak cukup untuk menyewa rumah secara mandiri.
Ia bisa bekerja penuh waktu, tetapi tetap kesulitan membangun tabungan atau membeli tempat tinggal.
Ketika keadaan seperti ini berlangsung lama, persoalannya tidak lagi sebatas kemiskinan. Yang muncul adalah perasaan bahwa sistem sosial tidak memberikan imbalan yang sepadan atas usaha seseorang.
Laporan mengenai gelombang protes Eropa pada Oktober ini menunjukkan bahwa mahalnya perumahan, tekanan biaya hidup, keterbatasan layanan publik, dan ketidakpastian masa depan menjadi keluhan lintas negara.
Ada perbedaan penting antara kemiskinan dan hilangnya harapan. Kemiskinan berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, sedangkan hilangnya harapan terjadi ketika seseorang tidak lagi percaya bahwa keadaan hidupnya bisa diperbaiki melalui jalur yang tersedia.
Dalam kondisi kedua, kemarahan sosial berpotensi menjadi jauh lebih besar.
Masyarakat tidak hanya menuntut bantuan ekonomi, tetapi juga mempertanyakan legitimasi sistem yang mengatur kehidupan mereka.
Apakah Generasi Muda Menjadi Penentu?
Generasi muda mempunyai peran penting, tetapi menyebut mereka sebagai satu-satunya penyebab atau penggerak seluruh kerusuhan akan terlalu menyederhanakan persoalan.
Ada tiga alasan mengapa anak muda menjadi kekuatan mobilisasi yang menonjol.
Pertama, mereka berada di garis depan ketidakpastian masa depan. Bagi generasi yang sedang memasuki dunia kerja, harga rumah, kualitas pendidikan, peluang kerja, dan kemampuan membangun keluarga bukanlah persoalan abstrak. Semua itu menentukan apakah mereka bisa menjalani kehidupan mandiri.
Kedua, generasi muda memiliki kemampuan mobilisasi melalui jejaring digital. Informasi mengenai ketidakadilan, video bentrokan, dan ajakan demonstrasi dapat menyebar dengan cepat. Media sosial memungkinkan kemarahan yang sebelumnya terpisah-pisah berubah menjadi kesadaran bahwa banyak orang menghadapi masalah serupa.
Ketiga, anak muda cenderung memiliki lebih sedikit kepentingan material yang ingin mereka pertahankan dibandingkan sebagian kelompok yang telah mapan. Mereka mungkin belum memiliki rumah, tabungan besar, atau posisi sosial yang stabil. Karena itu, mereka dapat lebih terbuka terhadap tuntutan perubahan mendasar.
Namun, hal ini bukan berarti seluruh generasi muda bersikap radikal atau mendukung kekerasan. Banyak yang menyampaikan tuntutan secara damai. Selain itu, demonstrasi di berbagai negara juga melibatkan pekerja, serikat buruh, keluarga, kelompok masyarakat sipil, dan warga yang lebih tua.
Di Prancis, misalnya, protes pelajar berkembang menjadi gerakan yang lebih luas setelah memperoleh dukungan kelompok pekerja dan aktivis.
Di Albania, mahasiswa bergabung dengan gerakan yang sebelumnya telah menyoroti persoalan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.
Karena itu, generasi muda lebih tepat dipahami sebagai katalisator perubahan: kelompok yang mempercepat, memperluas, dan memberikan energi kepada ketidakpuasan yang telah berkembang sebelumnya. Mereka bisa menjadi pemantik, tetapi bahan bakarnya adalah persoalan sosial yang lebih luas.
Bukan Semata-mata Konflik Kaya dan Miskin
Dimensi ekonomi tentu penting, tetapi konflik ini tidak cukup dijelaskan sebagai pertarungan antara orang kaya dan orang miskin.
Masalah yang lebih mendasar adalah ketimpangan akses terhadap kesempatan. Dua orang dapat memiliki pekerjaan, tetapi menghadapi masa depan yang sangat berbeda karena perbedaan pendapatan, aset keluarga, tempat tinggal, dan akses pendidikan.
Di sinilah perumahan menjadi simbol yang sangat kuat. Rumah bukan hanya barang ekonomi, melainkan fondasi kehidupan mandiri. Ketika harga rumah dan sewa meningkat lebih cepat daripada kemampuan pendapatan masyarakat, kelompok yang telah memiliki aset memperoleh keuntungan yang tidak otomatis dinikmati oleh mereka yang belum memilikinya.
Ketimpangan kemudian berpotensi berkembang menjadi ketimpangan antargenerasi. Sebagian anak muda bisa membeli rumah berkat bantuan keluarga, sedangkan yang lain harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk menyewa tempat tinggal.
Kesenjangan semacam ini dapat melahirkan perasaan bahwa keberhasilan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kerja keras, tetapi juga oleh keadaan keluarga tempat seseorang dilahirkan.
Meski demikian, faktor ekonomi bukan penjelasan tunggal. Kasus Albania memperlihatkan bahwa dugaan korupsi, persoalan lingkungan, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dapat menjadi pemicu utama. Di negara lain, kualitas pendidikan atau kebijakan publik lebih menonjol.
Benang merahnya bukan hanya kemiskinan, melainkan persepsi bahwa kekuasaan dan sumber daya tidak dikelola untuk kepentingan masyarakat secara adil.
Apakah Ini Satu Gerakan Revolusioner Eropa?
Belum ada dasar yang cukup untuk menyebut semua demonstrasi tersebut sebagai satu revolusi Eropa yang terorganisasi.
Kesamaan waktu, slogan, atau keluhan tidak otomatis membuktikan adanya satu komando maupun organisasi lintas negara. Pemberitaan mengenai gelombang protes ini justru menunjukkan bahwa demonstrasi berlangsung secara terpisah, dengan tuntutan dan dinamika politik domestik masing-masing.
Namun, ketiadaan satu komando tidak berarti tidak ada hubungan antargerakan. Media sosial memungkinkan para demonstran mengetahui pengalaman masyarakat di negara lain, mengadopsi cara mobilisasi, dan melihat bahwa persoalan mereka bukan sepenuhnya kasus individual.
Gerakan lokal dengan demikian dapat memperoleh inspirasi dari gerakan lain tanpa harus berada dalam organisasi yang sama.
Ada pula risiko politik yang perlu diperhatikan. Ketika demonstrasi damai bercampur dengan aksi perusakan dan bentrokan, tuntutan awal dapat tenggelam oleh isu keamanan. Kelompok politik tertentu kemudian bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk memperkuat agenda mereka, baik dengan menjanjikan ketertiban maupun dengan mengkritik ketidakadilan sosial.
Di Prancis, misalnya, kerusuhan menambah tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron menjelang berakhirnya masa jabatannya dan pemilihan presiden 2027.
Di Albania, protes langsung berhadapan dengan persoalan kepercayaan terhadap pemerintah. Konsekuensi politiknya berbeda, meskipun sama-sama memperlihatkan rapuhnya hubungan antara masyarakat dan pemegang kekuasaan.
Krisis Kontrak Sosial Eropa
Gelombang keresahan ini memperlihatkan bahwa stabilitas masyarakat tidak cukup dijamin melalui pertumbuhan ekonomi, pemilu, atau kekuatan aparat keamanan.
Masyarakat juga membutuhkan keyakinan bahwa sistem yang berlaku memberikan kesempatan yang adil dan masa depan yang layak.
Generasi muda menjadi penentu bukan karena mereka sendirian menanggung seluruh persoalan, melainkan karena mereka berada pada tahap kehidupan ketika janji mengenai masa depan seharusnya mulai terwujud. Ketika janji itu terasa semakin jauh, kekecewaan mereka dapat menjadi kekuatan politik yang besar.
Namun, apakah gelombang ini akan berkembang menjadi perubahan struktural atau mereda sebagai rangkaian protes sesaat, masih terlalu dini untuk dipastikan.
Yang jelas, pemerintah Eropa tidak dapat menjawab persoalan ini hanya dengan menertibkan jalanan. Mereka perlu memperbaiki layanan publik, memperluas akses perumahan, meningkatkan kesempatan kerja, dan memastikan kebijakan ekonomi tidak membebankan biaya penyesuaian secara tidak proporsional kepada kelompok yang paling rentan.
Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar ketertiban di jalanan, melainkan kepercayaan terhadap kontrak sosial: keyakinan bahwa negara, masyarakat, dan generasi yang berbeda masih mempunyai masa depan bersama.
Jika keyakinan itu dapat dipulihkan, protes bisa menjadi koreksi demokratis yang produktif. Namun, jika keresahan terus diabaikan, kemarahan yang hari ini muncul melalui demonstrasi berpotensi berubah menjadi ketidakpercayaan politik yang lebih dalam, menguatnya ekstremisme, dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.
Eropa kini menghadapi ujian bukan hanya tentang bagaimana menjaga ketertiban, melainkan juga bagaimana membuat masa depan kembali terasa mungkin bagi warganya.***
*Satrio Arismunandar ialah lulusan S3 Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan aktivis Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) di era Orde Baru 1990-an
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi






