
KAKINEWS.ID, Jakarta – Balon berlapis obat atau drug-coated balloon (DCB) berpotensi menjadi alternatif pengobatan bagi pasien penyakit jantung tanpa harus memasang ring atau stent logam secara permanen di pembuluh darah arteri.
Penelitian dari University of East Anglia (UEA), Inggris, menunjukkan teknologi tersebut berpeluang membantu ribuan pasien jantung mendapatkan penanganan tanpa implan logam permanen di dalam arteri. Temuan ini dilaporkan oleh media kesehatan News-Medical pada 15 Oktober 2026.
Teknologi balon berlapis obat bekerja dengan cara memasukkan balon kecil ke dalam pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Balon kemudian dikembangkan untuk membantu membuka pembuluh darah sekaligus melepaskan obat ke dinding arteri.
Berbeda dengan pemasangan stent konvensional, yang meninggalkan penyangga logam di dalam pembuluh darah, balon berlapis obat dirancang untuk memberikan obat tanpa meninggalkan implan permanen.
Analisis Libatkan 7.832 Pasien

Penelitian tersebut menganalisis data dari 10 uji klinis acak yang melibatkan 7.832 pasien dengan penyakit arteri koroner. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke jantung mengalami penyempitan sehingga aliran darah berkurang dan risiko komplikasi kardiovaskular meningkat.
“Balon berlapis obat menawarkan pendekatan alternatif. Tidak seperti stent yang tetap berada di arteri secara permanen, balon berlapis obat dikeluarkan setelah prosedur selesai,” ujar Corballis, sebagaimana dikutip News-Medical.
Meski demikian, pasien yang menjalani prosedur menggunakan balon berlapis obat berpotensi membutuhkan tindakan ulang untuk membuka kembali pembuluh darah yang menyempit, terutama pada arteri berukuran lebih besar. Peneliti mencatat hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati karena terdapat variasi antarp penelitian dan temuan tersebut dipengaruhi oleh satu uji klinis.
Penulis senior penelitian, Prof. Vassilios Vassiliou dari Norwich Medical School, UEA, mengatakan pendekatan tersebut berpotensi mengurangi sejumlah komplikasi jangka panjang yang berkaitan dengan pemasangan stent sekaligus mempertahankan pilihan pengobatan pada masa mendatang.
“Pendekatan ini berpotensi mengurangi beberapa komplikasi jangka panjang yang terkait dengan stent, sekaligus mempertahankan pilihan pengobatan di masa depan jika pasien mengalami penyakit lebih lanjut,” kata Vassiliou.






