
KAKINEWS.ID, Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 yang mengguncang Tibet dan menewaskan 16 orang menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam memperkuat mitigasi bencana, terutama menghadapi risiko gempa kerak dangkal di sekitar sesar aktif.
Peneliti gempa bumi, Daryono mengingatkan Indonesia memiliki lebih dari 400 segmen sumber gempa kerak dangkal yang berpotensi menimbulkan guncangan merusak.
Sejumlah sesar aktif yang perlu diwaspadai antara lain Sesar Besar Sumatra, Sesar Palu-Koro, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Naik Flores, dan Sesar Sorong.
Menurut Daryono, gempa dangkal yang terjadi dekat kawasan permukiman dapat menimbulkan kerusakan serius, bahkan ketika magnitudonya lebih kecil dibandingkan gempa yang berpusat jauh dari permukiman.
“Gempa dangkal yang terjadi dekat kawasan permukiman dapat menimbulkan kerusakan serius, bahkan ketika magnitudonya lebih kecil dibandingkan gempa yang terjadi jauh dari permukiman,” tulis Daryono dalam unggahannya.

Bangunan Tahan Gempa Jadi Prioritas
Daryono menjelaskan, magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan besarnya korban jiwa dan kerusakan akibat gempa. Kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, topografi, kepadatan permukiman, serta ketahanan struktur bangunan turut memengaruhi tingkat risiko.
Ia menekankan, banyak korban gempa terjadi akibat tertimpa bangunan yang runtuh. Karena itu, penerapan standar bangunan tahan gempa, pemeriksaan bangunan yang sudah berdiri, serta penguatan bangunan rentan perlu menjadi prioritas mitigasi.
“Penerapan standar bangunan tahan gempa, pemeriksaan bangunan eksisting, dan penguatan bangunan rentan harus menjadi prioritas mitigasi,” ujarnya.
Selain kualitas bangunan, pengalaman gempa Tibet juga menunjukkan tantangan penanganan bencana di daerah terpencil dan kawasan pegunungan. Akses jalan terbatas, medan berat, serta potensi longsor akibat guncangan dapat menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Dalam kondisi tersebut, kesiapan jalur evakuasi, komunikasi darurat, logistik, fasilitas kesehatan, serta kemampuan masyarakat melakukan pertolongan awal menjadi faktor penting untuk mengurangi jumlah korban.
Mitigasi Gempa untuk Menyelamatkan Nyawa
Daryono menegaskan, gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dicegah. Pergerakan lempeng tektonik tidak dapat dihentikan, sementara kemampuan memprediksi secara tepat kapan gempa kuat akan terjadi masih belum tersedia.
Meski demikian, dampak bencana dapat dikurangi melalui pembangunan rumah yang lebih aman, penguatan kesiapsiagaan masyarakat, serta peningkatan kapasitas penanggulangan bencana.
“Pada akhirnya, inti keberhasilan mitigasi gempa adalah diukur dari seberapa banyak nyawa yang dapat diselamatkan ketika gempa mengguncang,” tulis Daryono.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan sesar aktif. Upaya mitigasi perlu dilakukan sebelum bencana terjadi, mulai dari memastikan keamanan bangunan hingga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai langkah penyelamatan diri saat gempa.








