KAKINEWS.ID, Jakarta – Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengingatkan pentingnya memperkuat kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana menjelang musim hujan 2026. Meski sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November–Desember 2026, potensi hujan lebat hingga ekstrem tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Daryono menyampaikan, informasi prakiraan musim hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan bencana. Puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Menurutnya, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor masih kerap berulang di berbagai wilayah Indonesia, bahkan di lokasi yang sama. Kondisi tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah, gangguan aktivitas ekonomi, hingga kerugian masyarakat.

“Indonesia tidak kekurangan pengalaman dalam merespons bencana, tetapi masih perlu terus memperkuat pencegahan dan pengurangan risiko sebelum bencana terjadi,” ujar Daryono, Kamis (22/10/2026).

Ia menilai, pengalaman panjang Indonesia dalam menghadapi bencana seharusnya menjadi modal untuk memperbaiki sistem perlindungan masyarakat. Dengan demikian, persoalan yang sama tidak terus berulang setiap musim hujan akibat kerentanan yang belum tertangani.

Dalam perspektif pengurangan risiko bencana, Daryono menjelaskan, cuaca ekstrem merupakan ancaman alam, tetapi besarnya dampak bencana turut dipengaruhi tingkat keterpaparan, kerentanan, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman tersebut.

Permukiman di dataran banjir, kawasan dengan lereng tidak stabil, berkurangnya daerah resapan air, buruknya sistem drainase, serta keterbatasan jalur evakuasi dapat memperbesar risiko ketika hujan ekstrem terjadi.

Karena itu, upaya mitigasi perlu diperkuat melalui pengurangan kerentanan wilayah, perbaikan infrastruktur, penataan ruang berbasis risiko bencana, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

“Cuaca buruk dan ekstrem boleh berulang, tetapi kerentanan tidak boleh terus diwariskan. Kita mungkin tidak dapat mencegah hujan ekstrem, tetapi dapat mengurangi kemungkinan masyarakat menjadi korban,” tegasnya.

Daryono menambahkan, keberhasilan penanggulangan bencana tidak cukup diukur dari kecepatan penyaluran bantuan setelah kejadian. Upaya tersebut juga harus dinilai dari seberapa banyak korban jiwa dan kerugian yang berhasil dicegah melalui langkah antisipasi sebelum bencana terjadi.

Dengan prakiraan musim hujan yang telah disampaikan BMKG, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini, terutama di wilayah yang rawan banjir dan tanah longsor.