BERITA UTAMA Ekonomi dan Bisnis

Buyback Dimusnahkan, Ekuitas Dipangkas: Emiten Besar Kirim Sinyal Keras ke Pasar

Buyback Dimusnahkan, Ekuitas Dipangkas: Emiten Besar Kirim Sinyal Keras ke Pasar

BEI (Foto: Dok Kakinews.id)

Kakinews.id – Sejumlah emiten besar tercatat kompak melakukan pengurangan modal dengan cara mengalihkan kembali saham hasil pembelian kembali (buyback) dalam waktu yang nyaris bersamaan. Aksi ini bukan sekadar manuver teknis, melainkan sinyal tegas perubahan strategi permodalan emiten-emiten mapan.

Langkah tersebut dilakukan antara lain oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yang masing-masing memilih jalur berbeda dalam mengelola saham treasury hasil buyback.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menegaskan, pengurangan modal melalui pengalihan saham buyback berdampak langsung dan signifikan terhadap struktur permodalan perusahaan. Langkah ini secara sadar memangkas ekuitas, namun sekaligus menghapus saham beredar secara permanen.

“Ekuitas bisa turun, tapi jumlah saham beredar turun permanen. Otomatis EPS dan ROE bisa naik,” ujar Wafi dikutip Minggu (18/1/2026).

Dari sisi rasio keuangan dan valuasi, Wafi menilai strategi ini efektif menutup ruang dilusi di masa depan. Dengan basis saham yang lebih ramping, laba per saham terdongkrak dan valuasi menjadi lebih menarik di mata pasar.

“Setidaknya ke depan tidak ada dilusi. Valuasi jadi menarik, PER lebih murah karena EPS naik,” katanya.

Di level implementasi, INTP memilih langkah paling ekstrem. Perusahaan ini secara resmi telah mengalihkan 165.628.900 saham treasury hasil buyback periode 6 Desember 2021 hingga 6 Desember 2022 melalui mekanisme pengurangan modal ditempatkan dan disetor penuh. Padahal, perseroan sejatinya memiliki kewajiban mengalihkan 250.158.300 saham treasury dengan harga rata-rata Rp10.930 per saham. Alih-alih melepas kembali ke pasar, manajemen memilih “mematikan” saham tersebut dari peredaran.

Namun cerita INTP belum selesai. Perseroan masih menyimpan 84.529.400 saham treasury dari buyback 2021–2022 yang belum ditentukan nasibnya. Belum lagi tambahan 81.099.500 saham dari buyback periode Mei–Desember 2024 dengan harga rata-rata Rp6.967 per saham yang juga wajib dialihkan sesuai ketentuan regulator. Hingga akhir Desember 2025, total saham treasury INTP masih mencapai 210.492.400 saham atau sekitar 5,99% dari modal disetor—angka yang bukan kecil dan berpotensi menjadi isu jika arah kebijakan berubah.

Berbeda dengan INTP, BNGA justru memanfaatkan saham buyback sebagai instrumen remunerasi manajemen. Saham tersebut dialokasikan kepada Material Risk Taker (MRT), menandai pendekatan yang lebih lunak dan internal. BNGA melakukan buyback 168.000 saham dengan harga rata-rata Rp2.120 per saham senilai Rp357,24 juta. Pengalihan dilakukan bertahap, menyisakan 108.000 saham yang masih wajib dialihkan kembali.

Sementara itu, ADRO tampil agresif dengan mengalihkan 1,36 miliar saham treasury senilai Rp2,71 triliun melalui pengurangan modal pada 5 Agustus 2025. Saham tersebut berasal dari buyback yang dituntaskan pada Mei–Juni 2025. Meski demikian, ADRO masih menyimpan 589,19 juta saham treasury senilai sekitar Rp1,13 triliun yang belum dialihkan, meski seluruh skema telah mengantongi restu RUPS dan mematuhi regulasi OJK serta Undang-Undang Perseroan Terbatas.

Menanggapi tren pengalihan saham buyback yang terjadi hampir serempak ini, Wafi menilai pola tersebut mencerminkan karakter emiten yang sudah matang dan kelebihan kas.

“Ini nunjukkin karakter perusahaan yang mature dan cash rich,” ujarnya.

Namun demikian, bayang-bayang tekanan pasar tetap ada. Selama saham treasury masih tersisa dan belum dimusnahkan, potensi overhang tidak sepenuhnya hilang jika saham tersebut sewaktu-waktu dilepas kembali ke pasar.

“Ada overhang kalau nanti dijual balik ke pasar. Tapi karena posisi kas kuat, pasar cenderung optimistis sisa itu akan dimusnahkan juga, bukan dijual,” kata Wafi.

Dengan kata lain, pasar kini menunggu satu hal krusial: konsistensi emiten. Apakah saham treasury benar-benar akan dimusnahkan demi memperkuat nilai pemegang saham, atau justru menjadi bom waktu yang siap dilepas saat kondisi berubah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *