
JAKARTA, KAKINEWS.ID — Harga emas dunia bergerak melemah pada awal perdagangan Senin (14/9/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pekan ini.
Harga emas spot berada di kisaran US$4.340 per troy ounce, setelah mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan inflasi inti pada Agustus. Indeks Harga Konsumen (IHK) inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, tercatat meningkat 0,3% secara bulanan.
Meski harga emas sempat ditutup menguat pada sesi sebelumnya, secara mingguan komoditas tersebut masih terkoreksi sekitar 1,8%.
Perkembangan inflasi tersebut menjadi perhatian utama pasar karena dapat mempersempit ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Bahkan, pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 88%.

Kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas. Pasalnya, emas tidak menghasilkan bunga sehingga ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, daya tarik logam mulia sebagai instrumen investasi dapat berkurang.
Pada perdagangan Senin pagi, harga emas spot tercatat turun 0,2% menjadi US$4.339,96 per troy ounce pada pukul 08.30 waktu Singapura.
Tekanan juga terjadi pada komoditas logam mulia lainnya. Harga perak turun 0,8% menjadi sekitar US$64 per ounce, sementara platinum dan paladium turut bergerak melemah. Di sisi lain, indeks Bloomberg Dollar Spot sedikit menguat.
Di tengah tekanan tersebut, arah kebijakan The Fed juga menghadapi dinamika politik di AS. Presiden Donald Trump kembali mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga dan mengkritik sikap The Fed yang dinilai terlalu ketat.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi faktor yang memperumit prospek inflasi global. Harga minyak Brent kembali mendekati US$107 per barel setelah melonjak hampir 9% sepanjang pekan lalu.
Situasi semakin tidak pasti setelah pertemuan yang direncanakan antara Iran dan sejumlah negara Teluk untuk membahas pembukaan jalur pelayaran sementara melalui Selat Hormuz ditunda.
Ketidakpastian di kawasan tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Jika berlangsung berkepanjangan, kenaikan harga energi dapat kembali memperbesar tekanan inflasi dan membuat bank sentral semakin berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Emas Masih Bertahan di Level Tinggi
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, harga emas masih berada pada level yang relatif tinggi.
Harga emas sebelumnya sempat turun mendekati US$4.000 per ounce pada Juli 2026, sebelum kembali bergerak naik dan bertahan di sekitar level US$4.400.
Pergerakan tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar emas terhadap perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Setiap perubahan proyeksi suku bunga AS langsung memengaruhi daya tarik emas dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.
Namun, prospek jangka panjang emas belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Sejumlah investor masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi, inflasi, pelemahan mata uang, serta risiko geopolitik.
Dengan demikian, pasar emas kini berada di persimpangan. Dalam jangka pendek, ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar menjadi beban. Namun, meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi tetap menjadi faktor yang dapat menopang permintaan terhadap emas.
Pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat bergantung pada keputusan The Fed serta sinyal kebijakan yang disampaikan setelah pertemuan bank sentral AS tersebut.







