
KAKINEWS.ID Amuntai – Kerajinan ilung karya tangan warga Desa Banyu Hirang, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), semakin dikenal dunia.
Produk unggulan lokal tersebut dipamerkan dan diperkenalkan kepada peserta Field Visit & International Community Service (ICS) Intan-handil 2026.
Kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari rangkaian Konferensi Internasional Intan-Handil 2026 yang mengangkat tema pengembangan pertanian lahan basah dan infrastruktur dataran rendah berkelanjutan.
Kedatangan peserta ke Desa Banyu Hirang menjadi momentum memperkenalkan potensi lokal, khususnya kerajinan berbasis sumber daya alam rawa yang diolah menjadi produk bernilai ekonomi Kelompok Usaha Bersama Kembang Ilung Banyu Hirang.
Bupati HSU, H Sahrujani memberikan apresiasi atas kreativitas warga yang mampu mengubah potensi alam sekitar menjadi produk bernilai jual tinggi sekaligus menjaga identitas budaya daerah.

“Kerajinan ilung ini adalah potensi yang luar biasa. Dari bahan di sekitar kita, masyarakat mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi dan seni. Ini harus terus kita dukung dan kembangkan,” katanya, Kamis (8/10/2026).
Ia menyambut baik adanya kerja sama dengan tamu dari Belanda yang berpotensi membuka akses pasar yang lebih luas.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian tamu dari Belanda. Ini menjadi peluang nyata bagi produk kerajinan lokal kita untuk menembus pasar internasional,” katanya.
Prof FX Suryadi dari Belanda menyampaikan ketertarikannya terhadap produk kerajinan ilung dan berkomitmen membantu pemasarannya ke pasar Eropa.
“Produk kerajinan di sini memiliki keunikan budaya dan nilai kearifan lokal yang sangat menarik. Kami akan berupaya membantu memperkenalkan dan memasarkan kerajinan dari HSU ke Belanda,” ungkapnya.
Ia menilai produk berbasis bahan alam dengan sentuhan budaya lokal memiliki daya saing dan daya tarik tersendiri di mata pasar global.
Hadir dalam kegiatan Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan, Sekretaris Daerah HSU, Adi Lesmana, Forkopimda, dan anggota DPRD Kalsel. Turut hadir para peserta dan narasumber dari Jepang, Belanda, Bangladesh, akademisi Universitas Lambung Mangkurat, dan instansi terkait.






