KAKINEWS.ID, Jakarta – Relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi risiko keselamatan yang tinggi ketika bertugas di tengah kobaran api tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai. Ancaman yang dihadapi tidak hanya berupa luka bakar, tetapi juga gangguan pernapasan hingga sengatan panas yang dapat mengancam jiwa.

Pakar sekaligus edukator kebencanaan Daryono  menjelaskan, relawan bekerja di lingkungan yang dinamis, berbahaya, dan sulit diprediksi.

Ancaman tersebut meliputi suhu ekstrem, asap beracun, kekurangan oksigen di lokasi tertentu, perubahan arah angin, medan yang sulit, hingga kelelahan fisik.

“Dari perspektif manajemen risiko bencana, risiko meningkat ketika tingkat keterpaparan terhadap bahaya tinggi, sementara kapasitas perlindungan dan kesiapan petugas rendah,” kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).

Menurutnya, relawan yang tidak dilengkapi APD memadai sangat rentan mengalami luka bakar, gangguan pernapasan, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) yang dapat mengancam jiwa.

Daryono juga mengingatkan, penggunaan masker biasa tidak cukup untuk melindungi petugas dari paparan gas karbon monoksida (CO). Gas tersebut berbahaya karena dapat menyebabkan keracunan serius.

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Paparan dalam konsentrasi berbahaya dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh dan berakibat fatal.

Karena itu, keselamatan relawan perlu menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Penyediaan APD yang sesuai, kesiapan petugas, serta penerapan prosedur keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko saat pemadaman berlangsung.

Daryono menegaskan, keberanian relawan tidak boleh menggantikan standar keselamatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

“Relawan datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menjadi korban,” tegasnya.