JAKARTA, KAKINEWS.ID — Tragedi terbaliknya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa dekat Kepulauan Masalembo menyisakan satu informasi penting yang kini patut ditelusuri secara serius: dugaan kapal telah mengalami kerusakan pada bagian dinding atau lambung akibat ditabrak truk Fuso sebelum berangkat dari Surabaya.

Informasi tersebut menyebutkan, kecelakaan bukan terjadi ketika kapal sudah berada di tengah Laut Jawa. Dugaan kerusakan justru disebut telah terjadi sejak kapal masih berada di Surabaya.

Sebuah truk Fuso diduga menabrak bagian dinding kapal hingga menyebabkan bagian tersebut robek. Kerusakan itu disebut kemudian sempat diperbaiki sebelum kapal diberangkatkan menuju Banjarmasin.

Namun, persoalan yang lebih serius muncul dari informasi berikutnya. Setelah kapal berlayar, disebut terdapat air yang masuk melalui bagian yang mengalami kerusakan tersebut sehingga sepanjang perjalanan dilakukan pemompaan untuk membuang air yang masuk ke dalam kapal.

Informasi ini tentu belum dapat disebut sebagai penyebab KM Virgo Transport 8 terbalik. Namun, apabila benar terjadi kerusakan lambung sebelum keberangkatan dan terdapat air yang terus masuk selama perjalanan, kondisi tersebut menjadi bagian penting yang semestinya diperiksa dalam investigasi menyeluruh mengenai kelayakan kapal sebelum berlayar.

Terlebih, KM Virgo Transport 8 kemudian mengalami kemiringan ekstrem dan akhirnya terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) dini hari.

Kapal tersebut dilaporkan membawa 243 orang, terdiri dari 213 penumpang dan 30 kru.

Dugaan Kerusakan Sebelum Berlayar Harus Dibuka Terang

Informasi mengenai dugaan tabrakan truk Fuso ini menjadi penting karena menyangkut kondisi fisik kapal sebelum meninggalkan Pelabuhan Surabaya.

Jika benar dinding kapal mengalami robekan akibat benturan kendaraan, maka pertanyaan utamanya bukan semata-mata apakah kerusakan tersebut telah diperbaiki secara fisik.

Yang juga harus diperiksa adalah seberapa besar kerusakan yang terjadi, bagian kapal mana yang terdampak, bagaimana metode perbaikannya, apakah perbaikan telah dinyatakan memenuhi standar, dan apakah setelah perbaikan kapal kembali menjalani pemeriksaan kelaiklautan sebelum berlayar.

Lebih jauh, informasi mengenai adanya air yang masuk selama perjalanan juga perlu diuji melalui pemeriksaan teknis.

Apakah air benar masuk melalui bagian yang sebelumnya mengalami kerusakan?

Apakah pemompaan dilakukan sebagai prosedur biasa atau karena terdapat kebocoran?

Berapa volume air yang masuk?

Apakah kondisi tersebut memengaruhi stabilitas kapal?

Semua pertanyaan tersebut seharusnya dapat dijawab melalui pemeriksaan bangkai kapal, catatan perawatan, laporan kejadian, logbook, rekaman komunikasi, dokumen pemeriksaan kapal, serta keterangan awak kapal dan pihak terkait.

Kapal Kemudian Miring dan Terbalik

Sebelum terbalik, KM Virgo Transport 8 disebut mengalami kemiringan drastis ketika melintasi perairan Laut Jawa dekat Masalembo.

Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso sebelumnya mengatakan, berdasarkan informasi dari nakhoda, kapal mengalami kemiringan setelah dihantam ombak dari sisi lambung kanan.

“Disampaikan oleh nahkoda Kapal Virgo tersebut terkait kejadian kemiringan kapal, ini juga akibat dari hantaman ombak dari lambung kanan,” kata Edy.

Sejumlah penumpang juga mengaku mendengar suara benturan sekitar pukul 02.00 dini hari, disertai suara seperti besi patah dari bagian dalam atau bawah kapal.

Keterangan tersebut kini menjadi salah satu bagian yang perlu dicocokkan dengan kondisi teknis kapal.

Sebab, bila benar kapal sebelumnya memiliki riwayat kerusakan lambung dan terdapat air yang masuk selama perjalanan, pemeriksaan harus menentukan apakah terdapat hubungan teknis antara kondisi tersebut dengan perubahan stabilitas kapal ketika dihantam gelombang.

Namun demikian, hubungan sebab-akibat tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil investigasi resmi selesai.

Tidak Ada Alarm, Penumpang Panik

Kesaksian korban selamat juga menggambarkan betapa cepatnya kapal kehilangan keseimbangan.

Ahmad Saudi, salah seorang penumpang yang selamat, mengaku terbangun setelah mendengar penumpang lain berlarian dan memberitahukan bahwa kapal mulai miring.

“Saya tanya, kenapa pak? Lalu dijawab katanya kapal miring. Terus saya berdiri, ternyata memang miring sungguhan. Langsung saya lari ke bawah,” kata Ahmad.

Ia kemudian berpegangan pada tiang jendela ketika kapal semakin miring.

Menurut Ahmad, proses kemiringan berlangsung sangat cepat dan tidak disertai alarm peringatan yang ia dengar.

“Kapal ini terlalu cepat kemiringannya, sedangkan alarm pemberitahuan saja tidak ada. Keburu miring, terlalu cepat,” ujarnya.

Kesaksian lainnya datang dari Riyanda (30), warga Cilacap. Ia mengaku langsung mengenakan jaket pelampung dan menceburkan diri ke laut ketika mengetahui kapal telah miring.

“Posisi kapal sudah miring, saya langsung mencebur ke laut dengan mengenakan baju pelampung di kapal,” ujarnya.

Ia sempat terbentur lambung kapal dan kemudian bertahan dengan berpegangan pada selembar tripleks sebelum akhirnya mencapai sekoci dan dievakuasi kapal penolong MV Haida.

Kesaksian Jonny Kim: Batal Naik di Menit Terakhir

Informasi lain yang menarik perhatian datang dari Jonny Kim, calon penumpang yang mengaku semula hendak menggunakan KM Virgo Transport 8 tetapi akhirnya membatalkan perjalanan dan memilih menggunakan pesawat.

Dalam kesaksiannya yang beredar, Jonny Kim menyebut dirinya memiliki hubungan pertemanan dengan pemilik kapal. Ia bahkan mengaku bisa menumpang tanpa membayar tiket.

Jonny menyebut kapal tersebut merupakan milik temannya yang memiliki sejumlah usaha perhotelan dan pusat perbelanjaan, termasuk Hotel Barito dan HBI serta sebuah hotel di Surabaya yang disebut berada di sebelah Hokky.

“Saya bisa gratis tanpa bayar tiket kapal,” demikian bagian kesaksian Jonny Kim.

Jonny mengaku semula hendak menggunakan kapal tersebut untuk menuju Banjarmasin. Namun pada menit-menit terakhir ia mengubah keputusan dan memilih naik pesawat.

Ia kemudian mengetahui bahwa kapal yang semula hendak ditumpanginya mengalami musibah dan terbalik sekitar pukul 02.00 dini hari.

Dalam kesaksiannya, Jonny mengungkapkan rasa syukur karena batal naik kapal tersebut.

“3 banding satu harusnya aku sudah ikut tenggelam bersama kapal ferry ex Jepang yang baru dioperasi 3 bulan,” tulisnya dalam kesaksian tersebut.

Keterangan Jonny Kim merupakan kesaksian pribadi dan sejumlah informasi mengenai kepemilikan maupun aset usaha yang disebutkannya tetap perlu dikonfirmasi secara independen kepada pihak pemilik/operator kapal.

Bukan Sekadar Soal Ombak

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah memerintahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi menyeluruh terhadap kecelakaan tersebut.

Investigasi mencakup faktor cuaca, kelaiklautan kapal hingga penataan muatan.

“Proses tersebut akan dilaksanakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sesuai dengan kewenangannya,” kata Dudy dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu (13/9/2026).

Dudy juga meminta masyarakat tidak menarik kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan sebelum investigasi selesai.

Pemerintah sebelumnya membantah dugaan kapal mengalami overload. Menurut Dudy, KMP Virgo Transport 8 berlayar dalam kondisi tidak penuh.

“Perlu diketahui, KMP Virgo Transport 8 berlayar dalam kondisi tidak overload,” tegasnya.

Karena itu, dugaan kerusakan lambung sebelum keberangkatan menjadi informasi yang layak dimasukkan ke dalam ruang investigasi, bersama dengan faktor gelombang, stabilitas kapal, kondisi muatan, sistem pompa, sistem alarm, serta kesiapan alat keselamatan.

129 Orang Masih Dicari

Di tengah munculnya berbagai informasi mengenai penyebab kecelakaan, operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlangsung.

Berdasarkan pembaruan pada Senin (14/9/2026) siang, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan, enam orang meninggal dunia, sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian dari total 243 orang dalam manifes.

Sebanyak lebih dari 600 personel gabungan dikerahkan. Operasi melibatkan Basarnas, TNI, Polri, kementerian, lembaga terkait serta unsur masyarakat.

Sebanyak 17 kapal, lima helikopter dan pesawat turut digunakan untuk menyisir lokasi kecelakaan.

Kondisi angin kencang dan gelombang tinggi menjadi salah satu kendala dalam pencarian, termasuk ketika tim hendak melakukan penyelaman.

KNKT Perlu Telusuri Jejak Kapal Sejak dari Surabaya

Kini perhatian tidak boleh hanya tertuju pada detik-detik ketika KM Virgo Transport 8 terbalik.

Rangkaian peristiwa sejak kapal masih berada di Surabaya juga perlu dibuka secara terang.

Jika benar pernah terjadi tabrakan truk Fuso yang menyebabkan dinding kapal robek, kemudian dilakukan perbaikan, dan selama perjalanan air disebut terus dipompa keluar, maka seluruh rangkaian tersebut harus masuk dalam pemeriksaan teknis KNKT.

Investigasi perlu menjawab apakah kerusakan tersebut benar terjadi, lokasi dan tingkat kerusakannya, kualitas perbaikannya, apakah terjadi kebocoran setelah kapal berlayar, serta apakah kondisi tersebut berpengaruh terhadap stabilitas kapal.

Selain itu, perlu ditelusuri pula siapa yang melakukan pemeriksaan setelah perbaikan, siapa yang menyatakan kapal layak berlayar, serta apakah seluruh prosedur keselamatan telah dipenuhi sebelum kapal meninggalkan Surabaya.

Di sinilah investigasi tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa kapal dihantam gelombang.

Sebab gelombang adalah faktor eksternal. Sementara kondisi kapal sebelum menghadapi gelombang adalah persoalan kelaiklautan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

Penyebab pasti KM Virgo Transport 8 terbalik tetap menunggu hasil investigasi resmi. Namun dugaan adanya kerusakan lambung akibat benturan kendaraan sebelum keberangkatan, yang kemudian disebut mengalami kebocoran dan membutuhkan pemompaan sepanjang perjalanan, merupakan informasi yang tidak semestinya diabaikan.

Apalagi tragedi tersebut kini meninggalkan 129 orang yang masih dalam pencarian dan enam korban jiwa yang telah ditemukan.

Publik berhak mengetahui: dalam kondisi seperti apa sebenarnya KM Virgo Transport 8 meninggalkan Surabaya, dan apakah kapal benar-benar telah dinyatakan layak berlayar sebelum membawa ratusan manusia menuju Banjarmasin. (red)