
Jakarta, Kakinews – Sidang kasus dugaan suap impor yang menyeret pemilik Blueray Cargo, John Field, mulai membuka dugaan busuk praktik “setoran” di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Nama Djaka Budhi Utama ikut terseret setelah jaksa KPK mengungkap adanya aliran uang SG$213.600 kepada pihak berkode “1” yang disebut sebagai Dirjen Bea Cukai.
Fakta mengejutkan itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta saat jaksa KPK memeriksa Orlando Hamonangan Sianipar alias Ocoy, mantan Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai yang kini juga berstatus tersangka.
Di hadapan majelis hakim, Orlando mengaku pemilik Blueray Cargo, John Field, pernah datang langsung membawa amplop berisi uang dolar Singapura yang disebut akan dibagikan kepada sejumlah pejabat Bea Cukai. Uang itu diduga merupakan bagian dari praktik suap untuk melancarkan urusan impor.
“Pokoknya semuanya bagikan aja langsung ke orang yang masing-masing,” ujar Orlando dalam persidangan, Rabu (20/5/2026).
Jaksa KPK kemudian membongkar kode-kode dalam amplop cokelat tersebut. Kode “1” disebut merujuk kepada Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama dengan nilai mencapai SG$213.600. Sementara kode lainnya diduga mengarah ke sejumlah pejabat penting di lingkungan Direktorat Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai.

“Izin majelis, kami tegaskan yang 1 adalah Dirjen Bea Cukai. Nilainya SG$213.600. Kami punya bukti ini,” tegas jaksa KPK M Takdir Sugan di ruang sidang.
Tak hanya sekali, Orlando juga mengungkap penerimaan amplop berisi dolar Singapura itu diduga terjadi hingga enam kali. Pengakuan tersebut memunculkan dugaan adanya pola pembagian uang yang berlangsung sistematis dan melibatkan lebih dari satu pejabat.
Jaksa turut membeberkan adanya kode-kode lain dalam amplop yang diduga menjadi penanda penerima uang. Mulai dari pejabat intelijen, kepala seksi, hingga petinggi Direktorat Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai disebut ikut menerima bagian.
Meski begitu, Orlando mencoba menjaga jarak dengan menyatakan dirinya tidak mengetahui seluruh kode penerima uang tersebut. Namun pengakuannya soal pembagian amplop dan kedatangan langsung John Field semakin memperkuat dugaan adanya praktik “jatah” di internal Bea Cukai.
Majelis hakim bahkan sempat mengingatkan jaksa agar tidak menggiring kesaksian. Namun pernyataan jaksa soal adanya bukti aliran uang kepada pihak berkode “1” membuat sorotan publik terhadap pucuk pimpinan Bea Cukai semakin sulit dibendung.
Kasus ini kembali memperpanjang daftar dugaan korupsi di lingkungan Bea Cukai yang sebelumnya berkali-kali diterpa skandal gratifikasi, permainan impor, hingga dugaan pencucian uang. Publik kini menunggu langkah KPK untuk mengusut tuntas dugaan aliran uang panas tersebut dan membongkar siapa saja pejabat yang menikmati setoran dari bisnis impor.








Tinggalkan Balasan