KAKINEWS.ID, JAKARTA — Euforia HUT ke-81 Kemerdekaan RI tak serta-merta membuat rupiah terbebas dari tekanan. Mata uang Garuda memang menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026), tetapi posisinya masih berada di zona rawan dan nyaris kembali menyentuh level Rp17.845 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah menguat 21 poin atau 0,12% ke level Rp17.806 per dolar AS. Angka tersebut terlihat positif secara harian, tetapi belum cukup untuk menepis kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya posisi rupiah.

Jarak rupiah dengan level Rp17.845 juga masih tipis. Jika tekanan kembali meningkat, level tersebut berpotensi menjadi alarm keras bagi pasar sekaligus menegaskan bahwa pelemahan rupiah belum benar-benar berakhir.

Penguatan rupiah kali ini lebih banyak ditopang pelemahan dolar AS setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda perlambatan. Pelemahan konsumsi dan penjualan ritel AS ikut meredakan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve yang agresif.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membuka ruang bagi rupiah untuk menguat.

“Yang menyebabkan dolar melemah kemudian rupiah menguat adalah salah satunya meredanya kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga setelah data konsumen Amerika Serikat turun,” kata Ibrahim.

Namun, penguatan tersebut belum layak dibaca sebagai tanda bahwa rupiah telah keluar dari tekanan.

Rp17.845 Jadi Alarm Keras Pasar

Rupiah masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Salah satunya kenaikan harga minyak mentah yang kembali berada di atas US$80 per barel.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor energi dan pada akhirnya menambah tekanan terhadap rupiah. Ketika kebutuhan valuta asing meningkat, ruang gerak mata uang Garuda pun semakin terbatas.

Ancaman lain datang dari arah kebijakan The Fed. Pasar masih menunggu keputusan bank sentral AS dan membaca kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga pada September.

Jika ekspektasi pemangkasan menguat, dolar AS berpotensi kembali tertekan dan memberikan ruang bagi rupiah. Namun sebaliknya, apabila The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama, rupiah kembali berhadapan dengan tekanan penguatan dolar.

Ibrahim memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada September kembali terbuka setelah muncul sejumlah indikator perlambatan ekonomi Amerika Serikat.

“Data ini yang mendukung dalam pertemuan minggu ini Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga. Bisa saja ke depan di bulan September akan menurunkan suku bunga,” ujarnya.

Di dalam negeri, Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

Intervensi tersebut menjadi penting karena pergerakan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan kondisi ekonomi domestik. Arus modal asing, kekuatan dolar AS, harga komoditas, harga minyak, serta ekspektasi suku bunga global menjadi faktor yang dapat mengubah arah rupiah dengan cepat.

Dengan rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.800-an, pasar belum memiliki alasan untuk bernapas lega.

Penguatan 21 poin pada HUT ke-81 RI memang terlihat sebagai kabar positif. Tetapi di balik angka tersebut, tekanan terhadap rupiah masih nyata.

Level Rp17.845 kini bukan sekadar angka. Jika kembali ditembus, level itu dapat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah semakin dalam dan pasar kembali menghadapi risiko pelemahan mata uang Garuda yang lebih serius.

Di tengah perayaan kemerdekaan, rupiah justru masih harus berjuang mempertahankan daya tahannya. Penguatan hari ini belum cukup untuk menyatakan bahwa ancaman terhadap rupiah telah berakhir.