KAKINEWS.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan berat pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Aksi demonstrasi di Jakarta menjadi salah satu sentimen domestik yang membuat investor memilih bersikap defensif, di tengah tekanan jual yang sudah menyeret IHSG jatuh tajam pada perdagangan sebelumnya.

IHSG anjlok 1,48 persen ke level 6.405 pada Rabu, 26 Agustus 2026. Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan jual masih kuat dan membuat ruang gerak indeks pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali terbatas.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono, memperkirakan IHSG masih berada dalam fase koreksi. Ia menyebut area koreksi indeks berada di kisaran 6.290–6.394, sementara peluang penguatan akan menghadapi ujian di area 6.666.

Untuk perdagangan Kamis, Herditya memperkirakan level support IHSG berada di 6.373 dan 6.272, sedangkan resistance berada di 6.599 dan 6.705.

Senada, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan rentang support-resistance di 6.320–6.440.

Aksi demonstrasi 27 Agustus turut menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian akibat situasi domestik membuat investor berpotensi menahan transaksi agresif dan memilih wait and see.

Tekanan pasar juga datang dari sentimen global. Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan Personal Income naik dari 0,2 persen menjadi 0,4 persen, sementara Personal Spending justru melambat dari 0,3 persen menjadi 0,2 persen. Real Personal Spending turun dari 0,4 persen menjadi 0 persen.

Sementara itu, Personal Consumption meningkat dari 3,2 persen menjadi 3,4 persen. Pilarmas menilai perkembangan tersebut memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi masih bergerak dalam kisaran yang relatif stabil sehingga membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.

Pasar juga menunggu data ketenagakerjaan AS serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Pernyataan Warsh dinilai penting karena menjadi salah satu petunjuk awal mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Di tengah kondisi pasar yang masih rawan, analis tetap melihat sejumlah saham yang memiliki peluang untuk diperdagangkan.

Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Sementara Herditya memilih PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), serta PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).

Untuk ADRO, strategi yang diberikan adalah buy on weakness di 2.540–2.610 dengan target harga 2.700 dan 2.770. Stop loss dipasang di bawah 2.500.

BUVA direkomendasikan buy on weakness pada 630–700 dengan target 820 dan 865. Batas stop loss berada di bawah 595.

DSNG mendapatkan rekomendasi trading buy pada 1.455–1.465 dengan target 1.520 dan 1.550. Stop loss ditetapkan di bawah 1.440.

Sedangkan MAPA direkomendasikan buy on weakness pada 650–675 dengan target 700 dan 720. Stop loss berada di bawah 640.

Dengan IHSG baru saja tertekan hampir 1,5 persen, ditambah bayang-bayang aksi demonstrasi dan sentimen global, investor dinilai perlu ekstra waspada. Level support menjadi titik krusial untuk menentukan apakah IHSG mampu menahan tekanan atau kembali terseret lebih dalam oleh aksi jual.