
KAKINEWS.ID, JAKARTA- Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih berstatus Level III atau Siaga. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat empat kali guguran lava ke arah Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum dua kilometer.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan Kamis (1/10/2026) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, kondisi gunung terlihat jelas dengan cuaca berawan. Asap kawah tidak teramati.
BPPTKG mencatat 28 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-80 milimeter dan durasi 54,67-209,84 detik. Selain itu, tercatat 12 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2-38 milimeter dan durasi 24-33,34 detik.
“Teramati empat kali guguran lava ke arah Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter,” demikian keterangan BPPTKG dalam laporan aktivitas Gunung Merapi, Kamis (1/10/2026).
BPPTKG menyebut data pemantauan masih menunjukkan adanya suplai magma yang berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam wilayah potensi bahaya.

Potensi bahaya guguran lava dan awanpanas berada di sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat tidak melakukan kegiatan di wilayah potensi bahaya. Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” ujar BPPTKG.







