
JAKARTA, KAKINEWS.ID – Gempa bumi tektonik tidak berkaitan langsung dengan fenomena bulan purnama. Secara ilmiah, gempa bumi terutama disebabkan oleh pelepasan energi akibat akumulasi tegangan di kerak bumi yang dipicu pergerakan lempeng tektonik dan aktivitas sesar.
Hal tersebut disampaikan Edukator Mitigasi Bencana Daryono, Sabtu (10/10/2026). Ia menjelaskan, meskipun gaya gravitasi Bulan dan Matahari memengaruhi pasang surut bumi, pengaruh tersebut tidak cukup kuat untuk menjadi penyebab utama gempa bumi.
“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pasang surut bumi dapat sedikit memengaruhi peluang terjadinya gempa pada kondisi tektonik tertentu, tetapi tidak ada bukti ilmiah yang kuat dan empiris bahwa bulan purnama secara umum menyebabkan peningkatan gempa bumi,” kata Daryono.
Menurutnya, gempa bumi tektonik pada dasarnya berkaitan dengan dinamika pergerakan lempeng, aktivitas sesar aktif, serta zona subduksi. Sementara itu, fenomena bulan purnama bukan faktor utama yang menentukan terjadinya gempa.
Daryono menegaskan, gempa bumi yang terjadi bertepatan dengan bulan purnama tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat. Kesamaan waktu antara kedua fenomena tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa bulan purnama memicu gempa bumi.
“Dengan demikian, gempa yang bertepatan dengan bulan purnama tidak serta-merta memiliki hubungan sebab-akibat. Kebetulan waktu bukanlah bukti hubungan kausalitas,” tegasnya.
Penjelasan tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar tidak mudah mempercayai anggapan bahwa bulan purnama selalu memicu gempa bumi. Informasi kebencanaan perlu merujuk pada penjelasan ilmiah dan sumber yang kredibel.
Masyarakat juga diimbau memahami potensi gempa bumi berdasarkan kondisi tektonik wilayah masing-masing serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, tanpa mengaitkan kemunculan gempa dengan fenomena alam yang belum terbukti secara ilmiah sebagai penyebabnya.






