
KAKINEWS.ID, Jakarta – Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China tengah berlomba mengembangkan reaktor nuklir untuk ditempatkan di Bulan. Teknologi tersebut disiapkan untuk mendukung pembangunan pangkalan, penelitian, hingga penambangan sumber daya di permukaan Bulan.
Persaingan ini berkaitan dengan rencana eksplorasi jangka panjang di kawasan kutub selatan Bulan yang diyakini menyimpan cadangan es air di kawah-kawah yang tidak pernah terpapar sinar matahari.
Dilansir dari Al Jazeera, NASA menargetkan pengembangan reaktor nuklir di permukaan Bulan pada akhir 2030. Sementara Rusia, yang bekerja sama dengan China, menargetkan pengoperasian fasilitas serupa sekitar 2036.
NASA menyebut reaktor yang dikembangkan dapat menyediakan pasokan listrik secara berkelanjutan untuk mendukung berbagai aktivitas di Bulan. Energi tersebut dibutuhkan, antara lain, untuk menopang pangkalan penelitian dan menambang es air yang dapat diolah menjadi air minum, oksigen, serta bahan bakar roket.
Direktur Nuclear Futures Institute Universitas Bangor, Simon Middleburgh, menilai energi nuklir menjadi pilihan yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan listrik secara stabil di Bulan.

Menurut dia, tenaga surya memiliki keterbatasan karena sejumlah wilayah di Bulan mengalami periode tanpa sinar matahari yang panjang. Sementara penggunaan baterai dan bahan bakar dari Bumi membutuhkan biaya dan sumber daya yang lebih besar.
Selain kepentingan teknologi dan eksplorasi, perlombaan membangun reaktor nuklir di Bulan juga tidak lepas dari persaingan geopolitik antara negara-negara besar. Kehadiran lebih awal di lokasi yang memiliki sumber daya strategis berpotensi memberikan keuntungan bagi negara yang berhasil membangun infrastruktur terlebih dahulu.
Meski demikian, pengembangan reaktor nuklir di Bulan masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keselamatan peluncuran, pendaratan, dan risiko kontaminasi radioaktif.
Traktat Luar Angkasa 1967 melarang negara mana pun mengklaim Bulan sebagai wilayah kedaulatannya. Namun, perjanjian tersebut tidak melarang penggunaan energi nuklir di luar angkasa selama dilakukan untuk tujuan damai dan memperhatikan risiko pencemaran.









