
KAKINEWS.ID, Jakarta – Peringatan Hari Lumba-Lumba Air Tawar setiap 24 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang terancam punah akibat aktivitas manusia.
Anggota Komunitas Save Pesut Mahakam, Arief Rahmat, menyebut penggunaan jaring insang atau gillnet menjadi salah satu ancaman utama bagi kelangsungan hidup pesut. Satwa tersebut dapat tersangkut ketika mencari makan di perairan sungai.
“Karena pesut itu kan cari ikan, cari makan, kemudian tersangkut sama jaring atau rengge. Dan itu juga menyebabkan pesut lemas hingga mati,” kata Arief beberapa waktu lalu.
Menurut Arief, data yang dikutip dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) menunjukkan populasi Pesut Mahakam sekitar 60 individu pada 2024. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 66 individu pada 2025 berdasarkan data yang disampaikan dalam pemberitaan tersebut.
Selain jeratan jaring, Pesut Mahakam juga menghadapi ancaman berupa lalu lintas kapal, pencemaran perairan, serta kerusakan habitat. Peneliti Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb, menjelaskan bahwa tekanan aktivitas manusia dan lambatnya reproduksi membuat pemulihan populasi pesut menjadi tantangan tersendiri.

Pada Agustus 2026, Danielle menyebut sekitar 260 alat pemancar telah digunakan oleh warga di habitat Pesut Mahakam. Nelayan juga diimbau tidak membiarkan jaring terpasang tanpa pengawasan karena dapat membahayakan pesut yang melintas.
Peringatan Hari Lumba-Lumba Air Tawar menjadi pengingat bahwa perlindungan Pesut Mahakam membutuhkan keterlibatan masyarakat, nelayan, komunitas lingkungan, dan pemerintah. Menjaga kualitas air, mengurangi risiko jeratan alat tangkap, serta melindungi habitat menjadi langkah penting untuk mempertahankan keberadaan satwa khas Kalimantan Timur tersebut.






