KAKINEWS.ID, Jakarta – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menurun. Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat penanganan dampak asap karhutla dengan mengirimkan ribuan tabung oksigen dan peralatan pendukung ke daerah terdampak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, jumlah kasus ISPA harian yang sebelumnya mencapai 10.000 hingga 15.000 kasus kini turun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari.

Meski tren kasus menunjukkan penurunan, dampak asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat masih perlu diwaspadai. Hingga 22 Oktober 2026, tercatat 333.470 kasus ISPA di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota, termasuk 75.172 kasus pada kelompok balita.

Fokus utama Kemenkes saat ini adalah memastikan ketersediaan pasokan oksigen bagi masyarakat terdampak, terutama di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk.

Kemenkes mengirimkan ribuan tabung oksigen, selang, serta alat oxygen concentrator langsung ke tingkat puskesmas. Distribusi diprioritaskan untuk wilayah dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) kategori merah atau sangat tidak sehat dan hitam atau berbahaya.

Selain itu, sebanyak 477 hingga 491 unit Rumah Oksigen telah diaktifkan di berbagai titik strategis untuk memberikan layanan oksigenasi darurat bagi masyarakat yang mengalami sesak napas akut.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tetap mengutamakan pencegahan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kualitas udara memburuk.

“Nomor satu paling baik stay at home. Mau pakai apa pun kata-katanya, stay at home, jangan keluar kalau kondisinya jelek. Kalau toh pun harus keluar, pakai masker,” kata Budi Gunadi Sadikin.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan asap dengan tetap berada di dalam rumah saat kondisi udara tidak sehat. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.

Penurunan jumlah kasus ISPA harian menjadi perkembangan positif, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita. Upaya pemenuhan oksigen dan penguatan layanan kesehatan di daerah terdampak diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla.