
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (31/8/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah 0,12% ke level Rp17.730 per dolar AS, di tengah menguatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika sentimen global kembali berubah setelah muncul sinyal hawkish dari Federal Reserve (The Fed). Pasar mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam agenda Simposium Ekonomi Jackson Hole yang dinilai memberikan sinyal lebih ketat terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Tekanan semakin berat setelah harga minyak mentah Brent kembali menembus US$90,3 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara-negara Asia karena berpotensi meningkatkan tekanan impor dan inflasi.
Pada pukul 09.04 WIB, rupiah tercatat melemah sekitar 0,31%, menjadikannya salah satu mata uang Asia yang tertekan. Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, yakni 0,63%, disusul rupiah. Dolar Taiwan melemah 0,12%, sementara won Korea Selatan turun 0,03%.
Di sisi lain, yen Jepang masih mampu menguat 0,16%. Penguatan juga terlihat pada yuan China, yuan offshore, dan dolar Singapura.

Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Ujian Berikutnya
Tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin kompleks karena perhatian pasar kini beralih ke sejumlah indikator ekonomi domestik yang akan dirilis pada Selasa (1/9/2026), terutama data inflasi dan perdagangan Indonesia.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi meningkat menjadi 3,15% secara tahunan. Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%-3,5%.
Subsidi pemerintah diperkirakan masih mampu meredam dampak kenaikan harga minyak terhadap rumah tangga. Namun, ancaman lain datang dari faktor cuaca. Dampak El Nino berpotensi mengerek harga pangan dan kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.
Sementara itu, prospek perdagangan Indonesia juga belum menunjukkan sinyal yang sepenuhnya meyakinkan.
Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekspor Agustus melambat menjadi 3,1%, jauh di bawah pertumbuhan 8,84% pada Juli. Impor juga diproyeksikan melambat menjadi 22,17%, dari 34,27% pada bulan sebelumnya.
Kombinasi perlambatan ekspor, potensi kenaikan inflasi, harga minyak yang tinggi, serta sinyal hawkish The Fed menjadi risiko yang patut dicermati karena dapat membatasi ruang penguatan rupiah.
Padahal, sepanjang Agustus rupiah masih mencatat penguatan sekitar 1,52% hingga Jumat (28/8/2026). Namun, dalam perdagangan pekan lalu, rupiah kembali tertekan dan melemah 0,14%.
Rupiah Masih Berpeluang Bertahan
Meski tekanan eksternal cukup kuat, pasar obligasi domestik memberikan sedikit penyangga. Aksi beli investor pada sejumlah tenor menengah dan panjang dinilai dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah agar tidak jatuh lebih dalam.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan hari ini.
Rupiah berpotensi bertahan dalam kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS.
Namun, ruang gerak tersebut tetap sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, arah kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak, serta data ekonomi Indonesia yang akan menjadi penentu sentimen pasar dalam beberapa hari ke depan.







