Tulungagung, Kakinews – Operasi senyap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Tulungagung belum berhenti usai operasi tangkap tangan (OTT). Kamis (16/4), tim antirasuah kembali bergerak dan menggeledah Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, pusat rumah dinas kepala daerah yang kini kembali disorot tajam.

Sejak pagi, suasana pendapa mendadak lengang. Gerbang tertutup rapat dengan penjagaan diperketat. Aktivitas keluar-masuk nyaris lumpuh. Kondisi itu memunculkan kesan kuat bahwa ada operasi besar yang sedang berlangsung di balik pagar tertutup.

Di area dalam, tiga unit Toyota Innova Reborn berwarna gelap terparkir rapi. Kehadiran kendaraan tersebut menjadi sinyal jelas tim penyidik KPK tengah menjalankan penggeledahan lanjutan terkait perkara dugaan korupsi yang menyeret Bupati nonaktif Gatut Sunu Wibowo dan ajudannya, Dwi Yoga Ambal.

Penggeledahan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga menjelang pukul 17.00 WIB. Sejumlah ruangan di kompleks pendapa diperiksa satu per satu. Seluruh proses dilakukan tertutup, membuat informasi yang keluar sangat terbatas.

Tak hanya di pendapa, tim KPK disebut memecah pergerakan ke beberapa titik strategis. Selain rumah dinas bupati, penyidik juga menyasar kantor Pemkab Tulungagung hingga kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Sekretaris Dinas PUPR, Endra Wibawa, membenarkan adanya kedatangan aparat penegak hukum. Namun, ia memilih irit bicara soal detail kegiatan tersebut.

“Iya, hari ini ada kegiatan APH melakukan monitoring di kantor PUPR. Tapi belum tahu apakah ada hubungannya dengan penggeledahan KPK,” ujarnya singkat.

Hingga siang hari, sejumlah ruangan yang sebelumnya disegel, termasuk Bagian Pengadaan dan Jasa (BPJ) Setda Tulungagung, dilaporkan masih belum dibuka. Situasi itu memperkuat dugaan bahwa penyidik sedang memburu dokumen penting dan jejak aliran dana.

Di tengah ketegangan, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Pertolongan (DPKP) Tulungagung, Lugu Tri Handoko, sempat tanpa sengaja masuk ke area steril penyidik. Ia mengaku salah informasi setelah mengira dipanggil Plt Bupati Ahmad Baharudin di pendapa.

“Tadi saya kira Plt bupati ada di pendapa, ternyata di kantor pemkab. Di dalam malah ada KPK,” katanya kepada wartawan.

Penggeledahan ini diduga berkaitan erat dengan kasus dugaan pemerasan jabatan yang sebelumnya dibongkar KPK. Uang miliaran rupiah disebut mengalir dari para kepala OPD sebagai setoran demi mempertahankan posisi atau mengamankan proyek.

Menjelang sore, tiga mobil tim KPK yang dikawal kendaraan patroli Polres Tulungagung keluar dari pendapa tanpa memberikan pernyataan sedikit pun. Dari dalam kompleks, Kabag Umum Yulius Rahma Isworo terlihat masih berada di lokasi namun memilih bungkam saat didekati wartawan.

KPK hingga kini belum mengumumkan hasil resmi penggeledahan. Namun satu hal jelas, intensitas operasi di Tulungagung menandakan perkara ini masih jauh dari selesai, dan babak baru pembongkaran dugaan korupsi besar bisa saja segera meledak.