
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Senin (31/8/2026) di zona merah. Tekanan pasar terjadi di tengah sikap investor yang cenderung menahan diri (wait and see) terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, sentimen politik domestik, serta efek rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif hari ini.
Hingga pukul 09.15 WIB, IHSG terkoreksi 11,86 poin atau 0,18% ke level 6.506. Pelemahan tersebut menunjukkan pasar masih dibayangi ketidakpastian, terutama menjelang masuknya September yang secara historis menjadi periode dengan volatilitas pasar relatif tinggi.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, dalam 15 menit pertama perdagangan, volume transaksi mencapai 5,28 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,43 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 378.488 kali.
Meski indeks melemah, pergerakan saham secara keseluruhan masih relatif berimbang. Sebanyak 328 saham menguat, 195 saham melemah, sementara 197 saham lainnya stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih menghadapi sejumlah tekanan, terutama dari ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), dinamika politik domestik, serta rebalancing MSCI yang efektif pada 31 Agustus.

Tekanan juga datang dari aksi investor asing. Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,31 triliun di pasar reguler.
“Kami memproyeksikan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan terbatas pada awal pekan, seiring meningkatnya aktivitas rebalancing MSCI. Tekanan teknikal berpotensi memuncak menjelang penutupan 31 Agustus, serta saham-saham yang keluar dari indeks Small Cap,” demikian dikutip dari riset BRI Danareksa Sekuritas.
Di tengah kondisi tersebut, pasar juga harus menghadapi sinyal semakin hawkish dari bank sentral Amerika Serikat.
Phintraco Sekuritas menilai pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh yang cenderung hawkish menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar. Warsh menilai tren inflasi Amerika Serikat belum menunjukkan perbaikan signifikan dan kembali menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi fokus utama bank sentral.
Sinyal tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan AS pada September.
Berdasarkan CME FedWatch Tools, probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak menjadi 59%, dari sebelumnya 35% hanya dalam sehari.
“Investor global akan mencermati pergerakan suku bunga jangka panjang yang tetap berada di level relatif tinggi menjelang memasuki September,” ungkap Phintraco Sekuritas.
Selain sentimen The Fed, perhatian investor tertuju pada efektivitas rebalancing indeks MSCI hari ini. Perubahan komposisi indeks tersebut berpotensi memicu peningkatan transaksi dan pergerakan harga saham tertentu, terutama saham yang masuk maupun keluar dari indeks.
Phintraco memperkirakan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kisaran 6.400–6.600 sepanjang pekan ini.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia melihat tekanan eksternal masih menjadi beban bagi IHSG. Pelemahan Wall Street, meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga AS, serta terkoreksinya mayoritas harga komoditas diperkirakan menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik.
Namun, terdapat sejumlah katalis positif yang masih dapat menopang pasar, termasuk terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia serta relatif solidnya kinerja keuangan emiten perbankan.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.460–6.400 dan resistance 6.575–6.635,” tulis riset CGS International.
Berbeda tipis, Panin Sekuritas juga melihat IHSG masih berisiko mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Tensi geopolitik yang kembali meningkat, prospek kebijakan moneter yang lebih ketat, serta berlanjutnya arus keluar dana asing menjadi faktor yang perlu diwaspadai investor.
Dengan kombinasi tekanan eksternal, aksi investor asing, ketidakpastian suku bunga AS, dan rebalancing MSCI, ruang IHSG untuk menguat agresif pada awal pekan dinilai masih terbatas.
Untuk perdagangan hari ini, sejumlah sekuritas memiliki saham pilihan masing-masing. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan BBNI, BFIN, dan VKTR. Phintraco memilih BBCA, TLKM, DSSA, BBRI, dan EXCL, sementara CGS International merekomendasikan INDY, MDKA, EMAS, BFIN, PWON, dan MAPA. Panin Sekuritas memilih MAPI, BBYB, dan SMRA.






