
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, karhutla dilaporkan membakar sekitar 55 hektare lahan di Desa Sejau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, pada Minggu (30/8).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, kebakaran di Bulungan masih dalam penanganan. Api hingga kini belum sepenuhnya padam.
“Karhutla masih dalam penanganan dan api belum sepenuhnya padam,” kata Berton dalam laporan perkembangan kejadian bencana BNPB, Rabu (2/9/2026).
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 20 Agustus hingga 31 Desember 2026. Status tersebut ditetapkan untuk memperkuat penanganan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada Senin (31/8). Kebakaran menghanguskan sekitar tiga hektare lahan di Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja.

Hingga pemantauan terakhir, api belum dapat dipadamkan secara optimal karena adanya kendala akses menuju lokasi. Kondisi vegetasi berupa semak dan ilalang kering turut mempercepat penyebaran api.
Penanganan masih dilakukan oleh unsur terkait dengan mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan petugas.
Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, karhutla membakar sekitar 3,5 hektare lahan perkebunan milik warga di Desa Sausu Tambu, Kecamatan Sausu, pada Selasa (1/9).
Sebagian besar area yang terbakar telah mereda dan hanya menyisakan asap. Namun, masih terdapat satu titik di kawasan puncak hutan yang mengepulkan asap dan berpotensi menjadi sumber api kembali.
Sementara itu, kebakaran lahan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (1/9), membakar sekitar tiga hektare lahan. Titik api berada di petak 1015 Perum Perhutani, Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur.
Api telah berhasil dipadamkan. Meski demikian, kondisi lokasi masih dipantau untuk memastikan tidak kembali muncul titik api.
Selain karhutla, BNPB juga memantau dampak kekeringan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Kekeringan berdampak pada sekitar 456 kepala keluarga (KK) di Desa Babulu, Kecamatan Sebakung Jaya, sejak Senin (31/8). Pemerintah daerah melalui BPBD terus menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Hingga saat ini, sebanyak 62.000 liter air telah disalurkan kepada warga terdampak,” ujar Berton.
Memasuki periode kemarau, BNPB mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan dan karhutla, terutama di wilayah dengan curah hujan rendah serta vegetasi yang kering.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka atau membersihkan area pertanian. Api dapat dengan mudah meluas dan sulit dikendalikan dalam kondisi kering.
BNPB juga mengimbau masyarakat di wilayah rawan karhutla mengikuti informasi dan peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta perkembangan kondisi wilayah dari BPBD setempat.
Masyarakat diminta mewaspadai perubahan cuaca secara cepat, termasuk potensi hujan yang disertai angin kencang dan petir.
Untuk menghadapi kekeringan, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan prioritas. Warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air juga diminta segera melapor kepada pemerintah daerah atau BPBD.
Di wilayah rawan karhutla, masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak meninggalkan api atau bara setelah melakukan aktivitas di luar rumah.
BNPB mengajak masyarakat memperkuat kesiapsiagaan dengan memantau kondisi lingkungan dan mengikuti informasi resmi kebencanaan. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak panik, namun selalu waspada serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan instansi berwenang.
BNPB melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) terus memantau perkembangan kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia selama 24 jam, sejak Selasa (1/9) hingga Rabu (2/9/2026) pukul 07.00 WIB.







