
JAKARTA, KAKINEWS.ID —Pemantauan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat 567 titik hotspot high confidence secara nasional hingga Sabtu malam, 12 September 2026. Jumlah tersebut turun 121 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri (KLN) Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan penurunan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator positif dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
“Pemantauan hotspot terus dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran secara dini, sehingga penanganan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” kata Ristianto Pribadi.
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah masih mencatat hotspot tertinggi, yakni 197 titik. Jumlah tersebut turun dari sebelumnya 271 titik.
Sementara itu, hotspot di Kalimantan Barat tercatat 91 titik dan Sumatera Selatan 62 titik. Kedua provinsi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Adapun di Kalimantan Selatan, jumlah hotspot turun menjadi tujuh titik. Sedangkan Riau dan Jambi tidak terdeteksi hotspot high confidence selama dua hari terakhir.
Pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan karhutla melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dalam sepekan terakhir, OMC di Kalimantan Barat telah dilaksanakan sebanyak sembilan sortie dengan total 7.200 kilogram bahan semai. Kegiatan tersebut diperkirakan menghasilkan curah hujan mencapai 87,9 juta meter kubik.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC dilaksanakan sebanyak tujuh sortie dengan 5.600 kilogram bahan semai dan estimasi hujan mencapai 22,9 juta meter kubik.
Ristianto mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk melakukan pencegahan dan penanganan karhutla secara lebih dini.
“Pemerintah terus mengedepankan langkah antisipasi dan pencegahan agar potensi kebakaran dapat dikendalikan sedini mungkin,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah bertindak lebih awal sebelum peningkatan hotspot berkembang menjadi kebakaran besar.
Sementara itu, kualitas udara di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Masyarakat yang terdampak asap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker, terutama kelompok rentan, serta segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.







