JAKARTA, KAKINEWS.ID — Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat. Kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) membuat ruang penguatan rupiah semakin sempit pada perdagangan Senin (14/9/2026).

Harga minyak Brent telah berada di kisaran US$107,7 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$109,58 per barel pada akhir pekan. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) bertengger di sekitar US$102,75 per barel, atau menguat 2,71%.

Tekanan juga tercermin di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Pada pukul 07.45 WIB, rupiah NDF berada di sekitar Rp17.649 per dolar AS, dengan kecenderungan bergerak melemah menuju kisaran Rp17.700-an.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata berasal dari sentimen domestik. Pasar valuta asing Asia juga berada dalam tekanan. Sejumlah mata uang kawasan seperti won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Singapura, yen Jepang, dan yuan offshore tercatat melemah.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan serius bagi negara-negara berkembang Asia karena dapat menciptakan tekanan ganda: meningkatkan inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia, persoalannya menjadi lebih sensitif karena kenaikan harga minyak dunia berpotensi langsung meningkatkan beban fiskal. Ketika harga minyak rata-rata berada jauh di atas asumsi APBN, pemerintah menghadapi kebutuhan pembiayaan subsidi energi yang lebih besar.

Dalam skenario harga minyak rata-rata US$90 per barel, sementara asumsi APBN berada di sekitar US$70 per barel, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat. Pemerintah harus menyiapkan ruang fiskal lebih besar untuk mengantisipasi kenaikan biaya subsidi dan kompensasi energi.

Di sisi lain, pasar juga semakin memperhitungkan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi terhadap kenaikan Fed Fund Rate (FFR) meningkat setelah rilis data inflasi Amerika Serikat.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) berada di sekitar 86,2%, meningkat dari sekitar 70% sebelum data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS dirilis.

Inflasi AS pada Agustus tercatat 3,4% secara tahunan, sesuai ekspektasi dan relatif stagnan dibandingkan Juli. Namun, inflasi bulanan meningkat menjadi 0,4%, jauh di atas posisi Juli yang berada di sekitar 0,07%. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang kembali diperhatikan pasar.

Situasi ini membuat posisi Bank Indonesia (BI) menjadi semakin dilematis. Di satu sisi, tekanan terhadap perekonomian domestik dapat mendorong kebutuhan pelonggaran moneter. Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga AS, penguatan dolar, dan tingginya harga minyak dapat mempersempit ruang BI untuk menurunkan suku bunga.

BI sebelumnya mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Bank sentral juga telah menggarisbawahi kenaikan FFR, imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar AS sebagai risiko global yang dapat menekan daya tarik aset negara berkembang.

Jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin kuat. Indonesia tidak hanya menghadapi risiko arus modal keluar, tetapi juga tekanan dari kenaikan biaya impor energi yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestik.

Data inflasi Indonesia juga menunjukkan adanya peningkatan tekanan. Inflasi Agustus tercatat 3,19%, naik dari 2,88% pada Juli. Meski masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5% ± 1%, kenaikan harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi membuat tekanan inflasi semakin besar.

Risiko tersebut semakin serius apabila kenaikan harga minyak pada akhirnya ditransmisikan ke harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk BBM bersubsidi. Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi, tetapi dapat merembet ke biaya transportasi, logistik, pangan, dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Dengan kombinasi tekanan eksternal tersebut, rupiah berpotensi kembali menguji level psikologis Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS.

Untuk perdagangan Senin, rupiah spot diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Ruang penguatan menuju Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS masih terbuka apabila The Fed memberikan sinyal dovish dan harga minyak dunia kembali mereda.

Namun, selama harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dan ekspektasi kebijakan moneter AS tetap ketat, rupiah masih menghadapi jalan terjal. Tekanan tersebut sekaligus menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah dan BI menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan stabilitas harga dan ruang fiskal.