
JAKARTA, KAKINEWS.ID — Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) membuat posisi Menteri ATR/BPN Nusron Wahid ikut menjadi sorotan publik.
OTT yang dilakukan KPK pada Senin (14/9/2026) berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Bogor. Dalam perkara tersebut, KPK kemudian menetapkan delapan orang sebagai tersangka, termasuk pejabat ATR/BPN dan Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitojo Adhi. Sejumlah tersangka juga disebut memiliki hubungan dengan lingkaran Nusron.
Namun, sampai saat ini Nusron Wahid belum ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut. KPK menyatakan pemanggilan terhadap Nusron akan dilakukan berdasarkan kebutuhan penyidikan dan perkembangan alat bukti.
Di tengah bergulirnya penyidikan tersebut, data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Nusron yang dilaporkan untuk periode 2025 kembali menjadi perhatian.
Berdasarkan data yang diberitakan sebelumnya, Nusron melaporkan total harta kekayaan sebesar Rp23.862.598.724. Setelah dikurangi utang Rp1,1 miliar, kekayaan bersih yang tercatat mencapai sekitar Rp22,76 miliar. KPK menjelaskan bahwa data e-LHKPN merupakan harta yang dilaporkan oleh penyelenggara negara dan dapat diakses publik melalui sistem e-LHKPN.

Porsi terbesar harta tersebut berasal dari tanah dan bangunan yang dilaporkan senilai sekitar Rp16,94 miliar. Nusron juga melaporkan kendaraan dan mesin senilai sekitar Rp1,77 miliar, harta bergerak lainnya sekitar Rp397,61 juta, surat berharga sekitar Rp650,79 juta, serta kas dan setara kas sekitar Rp4,09 miliar.
Dengan demikian, angka Rp22,76 miliar tersebut merupakan nilai kekayaan bersih berdasarkan laporan LHKPN, bukan temuan KPK dalam perkara OTT.
Sorotan terhadap Nusron muncul terutama karena perkara yang sedang ditangani KPK berlangsung di kementerian yang dipimpinnya. KPK sebelumnya juga menyoroti pentingnya penguatan integritas di sektor pertanahan. Dalam kegiatan pencegahan korupsi di ATR/BPN pada Agustus 2026, KPK mengingatkan bahwa sektor pertanahan memiliki risiko korupsi, termasuk konflik kepentingan, gratifikasi, dan penyimpangan dalam pelayanan.
Kondisi tersebut membuat publik kini menunggu sejauh mana penyidik KPK akan mengembangkan perkara HGB Bogor, termasuk menelusuri aliran uang, hubungan antartersangka, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Nama Nusron sendiri belum dapat disimpulkan terlibat hanya karena posisinya sebagai Menteri ATR/BPN atau karena adanya orang-orang yang disebut memiliki hubungan dengannya. Penentuan keterlibatan pidana tetap bergantung pada bukti yang ditemukan penyidik.
Di sisi lain, KPK memiliki ruang untuk memanggil Nusron apabila keterangan Menteri ATR/BPN tersebut dinilai diperlukan untuk mengungkap perkara.
Pertanyaan publik kini bukan sekadar mengenai berapa besar harta yang tercatat dalam LHKPN Nusron, melainkan bagaimana penyidikan KPK akan membongkar seluruh mata rantai dugaan korupsi pengurusan HGB di Bogor dan memastikan siapa saja yang harus dimintai pertanggungjawaban berdasarkan alat bukti.

![**Rp40 Miliar Tan Kian ke Febrie Jadi Sorotan: Disebut Hakim, Dikaitkan Kejagung dengan Tindak Pidana Asal Asabri** JAKARTA — Dugaan aliran uang Rp40 miliar dari taipan properti Tan Kian kembali menjadi sorotan dalam perkara yang menjerat mantan Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah. Nilai Rp40 miliar tersebut bukan sekadar informasi yang beredar. Nama dan nominal itu tercantum dalam pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) ketika memutus perkara praperadilan Febrie dalam perkara Nomor 134. Hakim tunggal PN Jaksel Richard Edwin mengungkap adanya keterangan Tan Kian mengenai dugaan penyerahan uang Rp40 miliar kepada Febrie. Keterangan tersebut disebut telah menjadi bagian dari konstruksi bukti yang digunakan dalam penetapan Febrie sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi Asabri dan Jiwasraya. Namun, hakim menegaskan bahwa forum praperadilan tidak berwenang menguji kebenaran materi keterangan tersebut karena substansinya telah masuk ke pokok perkara penyidikan. “Menimbang bahwa dalam praperadilan hakim tidak dibenarkan melanjutkan pemeriksaan sampai menentukan apakah keterangan Tan Kian tersebut benar,” ujar Richard dalam persidangan di PN Jaksel, Kamis (27/8/2026). Perkara tersebut kembali mencuat setelah penyidik Kejaksaan Agung memeriksa Febrie. Kuasa hukumnya, Febri Diansyah, mengatakan kliennya dicecar 22 pertanyaan terkait dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Salah satu materi pemeriksaan menyangkut hubungan Febrie dengan Tan Kian serta dugaan penerimaan uang dari pengusaha tersebut. “Ada 22 pertanyaan ya seingat saya. Kalau pertanyaan-pertanyaan terkait dengan nama-nama lain tidak ada. Tadi lebih ke terkait dengan Tan Kian, misalnya apakah mengenal Tan Kian atau terkait dengan apakah ada pernah ada penerimaan dari Tan Kian,” kata Febri di Kejaksaan Agung, Selasa (8/9/2026). Febri menegaskan kliennya membantah pernah menerima Rp40 miliar dari Tan Kian untuk penanganan perkara Asabri. Di sisi lain, Kejaksaan Agung justru menyebut dugaan uang Rp40 miliar tersebut berkaitan dengan tindak pidana asal dalam perkara TPPU yang menjerat Febrie. Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna menjelaskan terdapat dua dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan perkara Febrie, yakni TPPU dan tindak pidana korupsi sebagai tindak pidana asal. Menurut Anang, salah satu tindak pidana asal tersebut berkaitan dengan penanganan perkara korupsi Asabri. Dalam konstruksi perkara itu, Febrie diduga menerima uang Rp40 miliar dari Tan Kian. “Tindak TPPU dan tindak pidana korupsi asalnya. Nah, itu yang saudara sebutkan [uang Rp40 miliar dari Tan Kian] itu berarti ke tindak pidana asalnya, salah satunya,” ujar Anang di Kejagung, Kamis (3/9/2026). Keterangan tersebut membuat dugaan aliran uang Rp40 miliar menjadi salah satu bagian penting yang perlu diuji dalam proses penyidikan. Sebab, di satu sisi, nama Febrie dan nominal Rp40 miliar muncul dalam pertimbangan hakim berdasarkan keterangan Tan Kian. Di sisi lain, kubu Febrie membantah adanya penerimaan uang tersebut. Versi kubu Febrie menyebut keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Tan Kian tidak secara tegas menyatakan uang Rp40 miliar diberikan kepada Febrie Adriansyah. Menurut Febri Diansyah, berdasarkan BAP Tan Kian, pengusaha tersebut awalnya dihubungi seseorang bernama Lucy. Tan Kian disebut mendapat informasi mengenai perkara yang sedang berjalan dan adanya potensi dirinya menjadi tersangka apabila perkara tersebut tidak “diurus”. Komunikasi kemudian disebut berlanjut dengan seseorang bernama Fery Hongkiriwang alias Fery Boboho. Febri mengatakan, berdasarkan BAP tersebut, uang diserahkan Tan Kian kepada Fery, bukan kepada Febrie Adriansyah. “Fery tidak pernah menyampaikan sama sekali di BAP Tan Kian tersebut bahwa uang tersebut nanti akan diberikan kepada Pak FA. Itu tegas sekali di BAP tersebut,” kata Febri. Febri juga menyebut Tan Kian dalam BAP hanya menyampaikan kemungkinan uang tersebut ditujukan kepada empat pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung. Namun, identitas keempat pejabat tersebut tidak diungkap secara rinci oleh kubu Febrie. “Tan Kian justru mengatakan di BAP itu, menggunakan kata ‘menurut saya, bisa saja’. Tan Kian mengatakan, bisa saja uang tersebut adalah untuk ada empat nama pejabat di Kejaksaan Agung,” ujarnya. Kubu Febrie juga menegaskan bahwa Tan Kian tidak menyatakan secara pasti kepada siapa uang tersebut ditujukan, digunakan, maupun disimpan setelah diserahkan kepada Fery. Dengan demikian, terdapat dua versi yang kini berhadapan dalam perkara tersebut. Pertimbangan hakim mencatat keterangan Tan Kian mengenai dugaan penyerahan Rp40 miliar kepada Febrie, sementara kubu Febrie menyatakan BAP Tan Kian tidak secara tegas menyebut uang itu diberikan kepada Febrie. Sementara Kejaksaan Agung menempatkan dugaan Rp40 miliar tersebut dalam konteks tindak pidana asal yang berkaitan dengan perkara TPPU Febrie. Tan Kian sendiri sebelumnya telah diperiksa dalam rangka penyidikan perkara dugaan korupsi Asabri. Setelah penanganan perkara berada di Kejaksaan Agung, Tan Kian diperiksa oleh penyidik Tim 9 pada Kamis (30/7/2026) dan Selasa (1/9/2026). Penyidik masih memiliki kewenangan untuk menguji seluruh keterangan, aliran dana, pihak yang menyerahkan maupun menerima uang, serta keterkaitannya dengan perkara Asabri dan Jiwasraya. Hingga proses penyidikan berjalan, dugaan penerimaan Rp40 miliar tersebut masih menjadi bagian dari perkara yang harus dibuktikan melalui alat bukti di tahap penanganan perkara.](https://kakinews.id/wp-content/uploads/2026/09/Febrie-Pakai-Rompi-Tahanan-Kejagung-100x100.jpeg)





