KAKINEWS.ID,  JAKARTA-Hujan diurnal atau hujan yang terbentuk dalam siklus harian di wilayah Jawa bagian barat saat ini dipengaruhi interaksi antara topografi pegunungan, angin monsun, dan fenomena El Nino.

Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan hujan tersebut terbentuk akibat pengaruh gunung-gunung di bagian selatan Jawa Barat.

“Hujan diurnal yang turun saat ini merupakan hujan yang dibentuk oleh gunung-gunung di selatan Jawa bagian barat,” ujar Erma dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/9/2026).

Menurut Erma, setidaknya terdapat tiga gunung utama yang berperan dalam pembentukan hujan orografis, yakni Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Papandayan.

Ia menjelaskan, sejumlah studi sebelumnya menunjukkan hujan di wilayah selatan Jawa tetap dapat terjadi ketika fenomena El Nino berlangsung. Kondisi tersebut dipengaruhi interaksi antara topografi dan angin monsun.

“Hujan yang berawal dari Bogor dan sekitarnya ini kadang meluas hingga Jakarta,” kata Erma.

Erma memperkirakan pengaruh lokal pegunungan terhadap pembentukan hujan akan meningkat pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko banjir dan longsor, terutama di wilayah yang berada dekat perbukitan atau pegunungan.

Sementara itu, kondisi berbeda diperkirakan terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada Oktober hingga November 2026, kedua wilayah tersebut masih berpotensi mengalami kondisi minim hujan.