KAKINEWS.ID, Jakarta – Pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai dampak penguatan fenomena Super El Nino yang berpotensi memicu kekeringan, mengurangi ketersediaan air, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2027.

Ahli Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, mengatakan penguatan Super El Nino juga berdampak pada perubahan pola musim di Indonesia. Salah satunya, penundaan musim hujan yang diperkirakan baru berlangsung secara seragam pada Desember 2026.

“Musim hujan baru seragam terjadi pada Desember 2026,” kata Erma dalam penjelasannya, Minggu (8/11/2026).

Meski demikian, Erma mengingatkan potensi hujan ekstrem masih dapat terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Pada dasarian ketiga Desember 2026, potensi hujan ekstrem diperkirakan terjadi di wilayah Sumatra bagian barat dan utara.

Sementara itu, pada dasarian ketiga Januari 2027, potensi hujan ekstrem diperkirakan berada di wilayah Jawa.

Menurut Erma, konsekuensi lainnya dari penguatan Super El Nino adalah durasi musim hujan yang menjadi lebih pendek. Kondisi ini berpotensi menyebabkan musim kemarau 2027 datang lebih awal dan berlangsung lebih kering.

“Potensi musim kemarau tahun depan lebih awal dan lebih kering karena masih dalam kondisi El Nino kuat,” ujarnya.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan air, sektor pertanian, serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan pola musim dan risiko kekeringan.