
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Kementerian Kehutanan mencatat 521 titik panas atau hotspot terdeteksi di enam provinsi prioritas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 30 September 2026.
Jumlah tersebut turun 372 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 893 hotspot. Data tersebut berdasarkan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, Suomi-NPP, dan NOAA-20.
Ahli Pertama – Analis Kebijakan Kementerian Kehutanan, Ajian Y. Pratopo, menyampaikan keprihatinan dan empati kepada masyarakat yang masih terdampak karhutla dan kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas, relawan, tenaga kesehatan, masyarakat serta semua pihak yang terus bekerja dalam pengendalian karhutla di lapangan,” ujar Ajian.
Sebelumnya, berdasarkan Forest Update Kementerian Kehutanan, data SiPongi hingga Minggu, 27 September 2026 pukul 21.10 WIB, mencatat 559 hotspot high confidence.

Enam provinsi prioritas saat itu meliputi Kalimantan Tengah 134 titik, Sumatera Selatan 29 titik, Kalimantan Selatan 25 titik, Kalimantan Barat 11 titik, Jambi lima titik, dan Riau nihil.
Kementerian Kehutanan menyebut penurunan hotspot merupakan perkembangan positif. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena kondisi di lapangan dapat berubah dengan cepat. Setiap hotspot juga perlu diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan keberadaan titik api.
Dalam pengendalian karhutla, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 armada patroli/operasi modifikasi cuaca (OMC) dan 44 armada water bombing.
Selain operasi udara, penanganan juga dilakukan melalui operasi darat dan pembasahan gambut untuk mencegah api kembali menyala.
Sementara itu, dari pemantauan pada 30 September 2026, Kalimantan Tengah tercatat memiliki 56 hotspot, Kalimantan Barat 15 titik, dan Kalimantan Selatan lima titik.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, dan mengikuti informasi terbaru mengenai kualitas udara.
Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang terdampak karhutla, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas kehutanan atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA).
Khusus satwa liar yang terdampak karhutla, masyarakat diimbau tidak melakukan penanganan sendiri. Warga diminta menjaga jarak dan segera melaporkan temuan tersebut kepada petugas.








