KAKINEWS.ID, JAKARTA — Laut Kepulauan Riau diduga bukan sekadar jalur pelayaran internasional. Perairan strategis di wilayah perbatasan itu kini menjadi perhatian serius Bareskrim Polri setelah rentetan penyelundupan narkotika dalam jumlah fantastis berhasil digagalkan dalam waktu singkat.

Di balik kapal-kapal yang membawa narkotika hingga hitungan ton, polisi menduga terdapat jaringan internasional dengan pengendali yang berada di luar negeri.

Badan Reserse Kriminal Polri kini tidak hanya memburu anak buah kapal dan pelaku lapangan. Penyidik bergerak menelusuri siapa aktor utama yang diduga mengatur pergerakan kapal, menentukan tujuan pengiriman, hingga mengendalikan komunikasi para pelaku dari balik layar.

Dalam kurun satu bulan terakhir, aparat menggagalkan sedikitnya tiga pengiriman narkotika dalam skala besar melalui jalur laut Kepri.

Barang bukti yang berhasil diungkap antara lain 1,3 ton ketamin dari kapal MV King Sun, 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter, serta 800 kilogram ketamin dari kapal Fu Chang Xing I.

Rentetan penyitaan tersebut membuat Bareskrim mencurigai adanya pola dan kemungkinan keterhubungan antarjaringan.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengatakan seluruh pengungkapan itu kini didalami untuk membongkar jaringan yang berada di balik pengiriman narkotika tersebut.

“Rentetan pengungkapan tersebut kini didalami untuk mengetahui kemungkinan adanya keterkaitan antarperkara sekaligus memetakan jaringan yang berada di balik pengiriman narkotika tersebut,” ujar Eko, dikutip Kamis (3/9/2026).

Bos Diduga Bermain dari Luar Negeri

Menurut Eko, indikasi keterlibatan sindikat internasional terlihat dari pola pergerakan kapal dan awak kapal yang bersinggungan dengan wilayah perairan internasional.

Penyidik menduga sebagian aktor penting dalam operasi penyelundupan tersebut berada di luar Indonesia.

Karena itu, Bareskrim harus memperluas koordinasi dan pertukaran informasi dengan aparat penegak hukum dari sejumlah negara, termasuk Malaysia, Singapura, dan China.

Polri telah membangun kerja sama bilateral untuk menelusuri pihak-pihak yang diduga memiliki peran dalam jaringan penyelundupan tersebut.

Penyidik juga tengah mengurai satu pertanyaan penting: apakah Indonesia menjadi tujuan akhir narkotika dalam jumlah ton-tonan itu, atau justru hanya dijadikan jalur transit oleh sindikat internasional?

Selain memburu pengendali jaringan, polisi menelusuri pola pergerakan kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia.

Dikendalikan dari Jarak Jauh

Bareskrim juga menemukan indikasi bahwa jaringan penyelundupan menggunakan pola komunikasi yang sulit dideteksi.

Instruksi kepada pelaku di lapangan diduga tidak diberikan sekaligus. Pengendalian dilakukan secara bertahap ketika kapal sudah berada di tengah perjalanan.

“Kadang mereka dikendalikan, terputus, menunggu kira-kira lima menit. Ke mana harus mereka meluncur, ke mana mereka harus komunikasi, siapa yang akan menemui mereka dan lain-lain,” ungkap Eko.

Pola tersebut menunjukkan penyidik tidak hanya menghadapi penyelundup biasa, tetapi jaringan yang diduga memiliki sistem komunikasi dan pengendalian terstruktur.

Untuk membongkar mata rantai tersebut, Bareskrim menggabungkan informasi lapangan, kecerdasan manusia, teknologi intelijen, hingga pertukaran data dengan aparat penegak hukum negara lain.

Eko membenarkan adanya korelasi yang sedang didalami dari sejumlah kasus penyelundupan narkotika yang terbongkar dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, penyidik masih harus memastikan hubungan antarperkara sebelum menetapkan siapa saja pihak yang berada di balik jaringan tersebut.

“Kalau kita lakukan pendalaman terus ke depan dan ada kemungkinan untuk kita melakukan intercept, akan kita lakukan,” tegas Eko.

Bareskrim memastikan penyelidikan belum berhenti pada kapal dan pelaku yang tertangkap di lapangan. Sasaran penyidikan kini mengarah lebih jauh: membongkar siapa pengendali utama yang diduga menggerakkan jalur narkotika internasional melalui perairan Indonesia.

Rentetan penyelundupan dalam jumlah ton tersebut menjadi alarm keras bahwa jalur laut Kepri diduga telah dimanfaatkan sebagai bagian dari operasi sindikat narkotika lintas negara. Kini, polisi berpacu memburu aktor yang selama ini diduga berada jauh dari garis depan operasi, tetapi mengendalikan permainan dari balik layar.