
KAKINEWS.ID, JAKARTA –Racun kalajengking berpotensi menjadi sumber senyawa baru untuk pengembangan pengobatan penyakit hati. Sejumlah peptida yang berasal dari racun kalajengking diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, antivirus, analgesik, dan imunomodulator.
Potensi tersebut diungkap dalam tinjauan ilmiah yang membahas penggunaan peptida racun kalajengking untuk menangani gangguan inflamasi dan penyakit hati. Penelitian menunjukkan beberapa kandidat dapat memengaruhi jalur biologis yang berperan dalam peradangan hati, fibrosis, serta infeksi virus hepatitis.
Salah satu kandidat yang mendapat perhatian adalah BmKK2, peptida yang dapat menghambat saluran kalium Kv1.3. Dalam penelitian pada tikus, ekstrak kelenjar racun Buthus martensii Karsch yang mengandung BmKK2 dilaporkan mampu mengurangi perlemakan, peradangan, dan fibrosis hati pada model penyakit hati berlemak.
Selain itu, sejumlah peptida seperti Smp76, Ctry2459, BmKDfsin4, dan Mucroporin-M1 menunjukkan aktivitas antivirus dalam penelitian laboratorium. Beberapa di antaranya bekerja terhadap virus hepatitis C (HCV) atau hepatitis B (HBV), termasuk dengan menghambat masuknya virus ke sel atau menekan replikasi virus.
“Peptida racun kalajengking merupakan sumber beragam molekul bioaktif dengan potensi antiinflamasi, analgesik, imunomodulator, antivirus, dan aplikasi pada penyakit hati,” demikian kesimpulan tinjauan tersebut. Seperti dikutip laman News Medical, (8/9/2026).

Namun, para peneliti menegaskan masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum senyawa tersebut dapat dikembangkan menjadi terapi bagi manusia. Sejumlah kendala yang harus diatasi antara lain kestabilan peptida, masa hidup yang pendek dalam darah, keterbatasan penyerapan melalui mulut, potensi respons imun, efek di luar target, serta kesulitan produksi dalam skala besar.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal iLIVER dengan judul Scorpion venom peptides: Novel therapeutic approaches for inflammatory and hepatic disorders. Para peneliti menilai teknologi kecerdasan buatan, nanoteknologi penghantaran obat, dan model penelitian hati yang lebih ketat dapat membantu mempercepat pengembangan kandidat terapi tersebut.






