
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Peneliti dari CSIRO dan Adelaide University, Australia, mengembangkan film berbahan sutra lebah yang direkayasa secara biologis sebagai bahan dasar perban luka pintar atau smart wound dressing. Material tersebut dinilai berpotensi membantu perawatan luka dengan kemampuan merespons kondisi luka.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Biomedical Materials Research Part B: Applied Biomaterials menunjukkan film sutra lebah tersebut aman dan dapat ditoleransi selama proses penyembuhan luka.
Peneliti juga menemukan sebagian besar film secara bertahap terurai di dalam luka, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan melepas perban yang dapat mengganggu jaringan baru yang sedang tumbuh.
Peneliti utama CSIRO, Dr Caitlin Johnston, mengatakan material tersebut dapat dirancang ulang hingga tingkat molekuler.
“Kita dapat membangun instruksi tertentu ke dalam sutra sehingga, di masa depan, perban dapat merespons kondisi luka, bukan hanya bertindak sebagai penghalang pasif,” kata Johnston.
Menurutnya, kemampuan tersebut membuka peluang pengembangan material perawatan luka yang dapat mendeteksi perubahan pada lingkungan luka dan memberikan respons tertentu.

“Sekarang kami mengetahui material ini tidak mengganggu proses penyembuhan secara keseluruhan, kami bersemangat untuk melangkah ke tahap berikutnya dan mulai membuat material yang membantu mencegah infeksi,” ujarnya.
Berpotensi Cegah Infeksi Luka
Sutra lebah berbeda dari sutra laba-laba maupun ulat sutra. Material ini merupakan protein alami yang digunakan larva lebah untuk membangun struktur pelindung di dalam sarang.
Protein sutra lebah memiliki karakter kuat, fleksibel, ringan, dan dapat terurai secara biologis. Urutan proteinnya juga dapat dimodifikasi tanpa merusak struktur material, sehingga peneliti dapat mengeksplorasi fitur tambahan seperti pendeteksi infeksi dan pelepasan obat secara terarah.
Peneliti Adelaide University dari Future Industries Institute, Dr Anna Antipov, mengatakan pemahaman mengenai perilaku material selama penyembuhan menjadi tahap penting sebelum menambahkan fungsi yang lebih kompleks.
“Penyembuhan luka merupakan proses yang sangat kompleks. Kami perlu memahami bagaimana material baru berperilaku dalam lingkungan tersebut sebelum menambahkan fungsi yang lebih canggih,” kata Antipov.
Ia menambahkan, hasil penelitian menunjukkan sutra lebah tersebut dapat terurai dan ditoleransi tubuh tanpa menghambat proses penyembuhan luka.
Tim peneliti kini memperoleh hibah Medical Research Future Fund untuk mengembangkan dan menguji sejumlah perban pintar yang ditujukan membantu mencegah infeksi pada luka kronis.
Di Australia, luka kronis diperkirakan dialami sekitar 450.000 orang setiap tahun dan menelan biaya sistem kesehatan lebih dari 6 miliar dolar Australia. Infeksi dapat memperlambat penyembuhan serta meningkatkan risiko rawat inap dan amputasi.






