Jakarta, Kakinews – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan evaluasi total terhadap sistem perlindungan Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL.

Ia menilai skema pengamanan saat ini tak lagi memadai menghadapi ancaman nyata yang terus meningkat di medan operasi.

Desakan itu menguat setelah jumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon bertambah menjadi empat orang hingga Jumat, 24 April 2026. Korban terbaru adalah Praka Rico Pramudia yang meninggal dunia usai sempat menjalani perawatan di rumah sakit Beirut.

“Kami mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL, agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan,” ujar Sukamta kepada Kakinews, Minggu (26/4/2026).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menegaskan keselamatan personel penjaga perdamaian tak boleh diabaikan oleh siapa pun, termasuk pihak-pihak yang terlibat konflik. Ia juga menuntut investigasi terbuka dan akuntabel atas insiden yang menewaskan Praka Rico.

Menurutnya, pemerintah Indonesia harus segera meninjau ulang secara menyeluruh aspek keamanan, kesiapan tempur, hingga pola penugasan prajurit dalam misi internasional, tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor penting perdamaian dunia.

“Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi,” tegasnya.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi PBB dan komunitas internasional. Jika mekanisme perlindungan tidak segera dibenahi, nyawa pasukan perdamaian akan terus berada di ujung tanduk di tengah memanasnya konflik kawasan.